Beranda » Lembar Pendidikan » Pemanasan Global Terhadap Kehidupan Lingkungan Hidup dan Sosial

Pemanasan Global Terhadap Kehidupan Lingkungan Hidup dan Sosial

Key Word

'....inspirasi menemukan solusi dan Kita pencipta inspirasi..."

Sapa Setiadi Wira Buana

Follow

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

setiadiwirabuana@gmail.com

Bergabunglah dengan 260 pengikut lainnya

kategori inspirasi

Blog Stats

  • 241,411 penata bangsa

Berbagi Inspirasi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

            Komposisi kimiawi dari atmosfer sedang mengalami peubahan sejalan dengan penambahan gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, metan dan asam nitrat. Khasiat menyaring panas dari gas tersebut tidak berfungsi. Energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi, sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atmsfer (uap air, karbon dioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan, menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca natural ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti ini tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60oF/15oC.

            Tetapi permasalahan akan muncul ketika terjadi konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer bertambah. Sejak awal revolusi industri, konsentrasi karbon dioksida pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsentrasi metan lebih dari dua kali, dan konsentrasi asam nitrat bertambah 15%.

            Perubahan iklim merupakan tantangan yang paling serius dihadapi dunia di abad 21. Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam studi muktakhir memperlihatkan bahwa masalah pemanasan yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia.

            Pemanasan global terjadi ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yang terus bertambah di udara. Hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan industri, khususnya CO2 dan Chlorofluorocarbon (CFC). Yang terutama adalah karbo dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh pengguna batubara, minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan. Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan petanian. Chrolofluorcarbon (CFC) merusak lapisan ozon seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global.

  1. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:

  • Agar menciptakan kepedulian yang lebih terhadap lingkungan sehingga bisa meminimalkan adanya pemanasan global.
  • Mengetahui bahaya dari adanya Pemanasan Global.
  • Dapat melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat dan tidak merusak lingkungan.
  • Cinta terhadap lingkungan.
  • Bertanggung jawab dan ikut serta melestarkan atau mencegah pemanasan global dengan hal-hal yang dapat dikerjakan seperti penanaman pohon,dll.

  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, permasalahan yang diangkat adalah :

  1. Arti penting dari pemanasan Global
  2. Hal yang mengakibatkan terjadinya pemanasan Global
  3. Dampak terhadap lingkungan hidup dan social dengan adanya pemanasan global

 

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kajian Teori

Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.

Terlebih lagi saat ini manusia tidak sadar akan kelestarian hidup lingkungannya sehingga banyak para oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab yang mengekploitasi hutan di Kalimantan juga Sulawesi untuk kepentingan pribadi atau di ekspor ke luar negeri untuk diolah menjadi furniture/perlengkapan rumah tangga yang di impor kembali ke negara kita dengan harga yang jauh lebih mahal. Selain itu banyak berdirinya pusat perbelanjaan, pabrik-pabrik dan apartement di pusat kota Jakarta yang menghilangkan lahan yang berfungsi sebagai daerah serapan air sehingga pada saat musin hujan tiba, kota ini selalu dilanda banjir.

Gbr.1 Gas Rumah Kaca

Kenaikan suhu bumi ini dapat berpengaruh pada perubahan iklim bumi. Beberapa tahun terakhir ini bumi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari musim hujan. Namun ketika musim penghujan tiba, intensitas curah hujan semakin tinggi dan terjadi banjir di beberapa daerah di nusantara, hal ini di dukung dengan hilangnya hutan kota dan hutan di sekitar daerah puncak.

Pemanasan global bisa dirasakan dalam 10 kejadian berikut ini :

  • Kebakaran hutan besar-besaran

Bukan hanya di Indonesia, sejumlah hutan di Amerika Serikat juga ikut terbakar ludes. Dalam beberapa dekade ini, kebakaran hutan meluluhlantakan lebih banyak area dalam tempo yang lebih lama juga. Ilmuwan mengaitkan kebakaran yang merajalela ini dengan temperatur yang kian panas dan salju yang meleleh lebih cepat. Musim semi datang lebih awal sehingga salju meleleh lebih awal juga. Area hutan lebih kering dari biasanya dan lebih mudah terbakar.

  • Situs purbakala cepat rusak

Akibat alam yang tak bersahabat, sejumlah kuil, situs bersejarah, candi dan artefak lain lebih cepat rusak dibandingkan beberapa waktu silam. banjir, suhu yang ekstrim dan pasang laut menyebabkan itu semua. Situs bersejarah berusia 600 tahun di Thailand, Sukhotai, sudah rusak akibat banjir besar belum lama ini.

  • Ketinggian gunung berkurang

Tanpa disadari banyak orang, pegunungan Alpen mengalami penyusutan ketinggian. Ini diakibatkan melelehnya es di puncaknya. Selama ratusan tahun, bobot lapisan es telah mendorong permukaan bumi akibat tekanannya. Saat lapisan es meleleh, bobot ini terangkat dan permukaan perlahan terangkat kembali.

  • Satelit bergerak lebih cepat

Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat panas, bahkan berimbas ke ruang angkasa. Udara di bagian terluat atmosfer sangat tipis, tapi dengan jumah karbondioksida yang bertambah, maka molekul di atmosfer bagian atas menyatu lebih lambat dan cenderung memancarkan energi, dan mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak karbondioksida di atas sana, maka atmosfer menciptakan lebih banyak dorongan, dan satelit bergerak lebih cepat.

  • Hanya yang Terkuat yang Bertahan

Akibat musim yang kian tak menentu, maka hanya mahluk hidup yang kuatlah yang bisa bertahan hidup. Misalnya, tanaman berbunga lebih cepat tahun ini, maka migrasi sejumlah hewan lebih cepat terjadi. Mereka yang bergerak lambat akan kehilangan makanan, sementar mereka yang lebih tangkas, bisa bertahan hidup. Hal serupa berlaku bagi semua mahluk hidup termasuk manusia.

  • Pelelehan Besar-besaran

Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan gununges, tapi juga semua lapisan tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini memicu dasar tanah mengkerut tak menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan merusak struktur seperti jalur kereta api, jalan raya, dan rumah-rumah. Imbas dari ketidakstabilan ini pada dataran tinggi seperti pegunungan bahkan bisa menyebabkan keruntuhan batuan.

  • Keganjilan di Daerah Kutub

Hilangnya 125 danau di Kutub Utara beberapa dekade silam memunculkan ide bahwa pemanasan global terjadi lebih “heboh” di daerah kutub.Riset di sekitar sumber airyang hilang tersebut memperlihatkan kemungkinan mencairnya bagian beku dasar bumi.

  • Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara

Saat pelelehan Kutub Utara memicu problem pada tanaman danhewan di dataran yang lebih rendah, tercipta pula situasi yang sama dengan saatmatahari terbenam pada biota Kutub Utara. Tanaman di situ yang dulu terperangkap dalam es kini tidak lagi dan mulai tumbuh. Ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar dibanding dengan tanah di era purba.

  • Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi

Sejak awal dekade 1900-an, manusia harus mendaki lebihtinggi demi menemukan tupai, berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan menemukan bahwa hewan-hewan ini telah pindah ke dataran lebih tinggi akibat pemanasan global. Perpindahan habitat ini mengancam habitat beruang kutub juga, sebab es tempat dimana mereka tinggal juga mencair.

  • Peningkatan Kasus Alergi

Sering mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim semi, maka salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma di kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi dianggap pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level karbondioksida dan temperatur belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mekar lebih awal dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.

 BAB III

PEMBAHASAN

A.Pengertian Global warming

Global warming adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi (terutama yang mengalami kenaikan suhu yang menyebabkan perubahan iklim). Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.

B.Penyebab Terjadinya Pemanasan Global

Penyebab terjadinya global warming yaitu gas rumah kaca.

  • Radiasi matahari menembus atmosfer bumi yang bersih.
  • Beberapa radiasi matahari dipantulkan kembali oleh atmosfer dan daratan bumi.
  • Radiasi yang diserap oleh permukaan bumi menjadi panas meyebabkan emisi longwave (inframerah) dipantulkan ke atmosfer.
  • Beberapa dari radiasi inframerah yang tidak diserap atmosfer dipantulkan kembali ke bumi.
  • Beberapa radiasi inframerah yang dipantulkan, kembali ke atmosfer dan hilang di luar angkasa.

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat ilustrasi dibawah ini

Gbr.2 Siklus Gas Rumah Kaca

Penyebab efek rumah kaca terjadi yaitu karena penggunaan kendaraan yang kurang bijaksana yang mengakibatkan polusi udara semakin meningkat secara drastis, menimbulkan karbon dioksida yang berlebihan sehingga cahaya matahari yang masuk ke bumi dan dipantulkan lagi tidak dapat menembus atmosfer bumi karena terhalang oleh karbon dioksida yang ditimbulkan dari polusi udara tersebut sehingga akan terasa lebih hangat.

Kenaikan suhu bumi ini dapat berpengaruh pada perubahan iklim bumi. Beberapa tahun terakhir ini bumi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari musim hujan. Namun ketika musim hujan tiba, intensitas curah hujan semakin tinggi dan terjadi banjir di beberapa daerah nusantara.

C.Dampak Pemanasan Global

Perubahan cuaca yang ekstrem inilah yang dapat menggaggu kehidupan di bumi baik kehidupan manusia maupun ekologi yang berada di bumi. Hewan-hewan mungkin akan mencari habitat baru dan mulai beradaptasi kembali dengan lingkungan barunya sedangkan tumbuhan akan mengubah sistem pertumbuhannya dan mencari temapta baru bagi populasinya. Mereka yang tidak dapat mencari habitat baru maka akan mengalami seleksi alam yang berakibat akan punahnya spesies-spesies tumbuhan dan hewan karena semua lahan kini telah dikuasai oleh manusia.

Sedangkan pada sektor sosial, pemanasan global mempunyai andil besar karena perubahan iklim yang sangat ekstrem maka akan timbul berbagai penyakit, terutama penyakit kulit dan kelaparan serta malnutrisi karena musim panas yang berkepanjangan akan mengakibatkan gagal panen pada sektor pertanian. Selain kelaparan berbagai jenis penyakit menular akan cepat berkembangbiak dikarenakan munculnya lingkungan baru bagi pertumbuhan virus dan nyamuk demam berdarah. Tidak hanya itu, tingginya tingkat polusi udara dan pencemaran lingkungan oleh limbah menybabkan berbagai penyakit pernapasan seperti asma, alergi, penyakit jantung dan paru kronis.

Pemanasan global juga berpengaruh pada kelestarian air dunia. Karena suhu bumi yang meningkat maka banyak sumber-sumber air yang mengering sehingga masyarakat akan semakin sulit untuk mendapatkan air bersih terutama di Jakarta. Sulitnya mendapatkan air bersih membuat masyarakat terdesak pada penyakit-penyakit kulit dan diare sehingga warga miskin akan banyak yang kehilangan nyawanya, karena dampak dari pemanasan global terasa lebih besar bagi mereka yang hidup di sekitar bantaran sungai dan tergolong ekonomi rendah.

Selain berdampak pada masalah kesehatan, pemanasan global ini juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan sosial-ekonomi Indonesia. Karena kenaikan suhu bumi sebagian hutan Indonesia menjadi kering dan mudah terbakar, belum lagi pembakaran lahan gambut yang diubah menjadi pemukiman atau lahan indusri. Dikarenakan hal ini Indonesia menjadi negara terbesar ketiga sebagai penyumbang gas rumah kaca. Oleh karena itu, usaha pemerintah untuk mengurangi polusi dan  gas rumah kaca tidak akan mampu apabila tidak didukung oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan. Saat ini sudah banyak LSM dan elemen-elemen masyarakat yang menyuarakan tentang masalah GoGreen dan gaya hidup yang ramah lingkungan salah satunya adalah WALHI, organisasi yang berdiri dari reaksi keprihatinan atas ketidak adilan dalam mengelola SDA dan sumber kehidupan, dan masih banyak lagi lembaga-lembaga lain yang giat dalam menyuarakan kelestarian lingkungan. Selain banyaknya lembaga-lembaga yang bermunculan dampak positif dari pemanasan global ini adalah proses fotosintesis pada tumbuhan yang semakin produktif yang berdampak pada perbaikan pangan namun tidak berpengaruh secara signifikan karena begitu banyak dampak negatifnya.

Dari sekian banyak dampak yang disebabkan oleh pemanasan global, sudah selayaknya kita untuk lebih simpati terhadap lingkungan kita sebagai satu-satunya tempat dimana kita tinggal. Sesuatu yang dapat kita lakukan dapat berpengaruh banyak terhadap lingkungan adalah dengan adanya rasa kesadaran dalam diri kita akan kelestarian lingkungan dan didukung dengan usaha-usaha perbaikan, seperti; menggunakan listrik seperlunya, menghemat penggunaan alat elektronik, menanam pohon sebagai upaya penyerapan karbon dioksida, konservasi hutan, menggunakan plastik yang ramah lingkungan. Semua usaha ini memang terlihat sederhana namun apabila dilakukan secara global maka akan berdampak besar bagi kelangsungan bumi. Hal-hal ini memang perlu di lakukan oleh negara-negara agraris sebagai negara kepulauan juga negara berkembang seperti Indonesia, sebagai salah satu negara yang memiliki hutan tropis yang luas di dunia. Apabila hal-hal ini dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan maka tidak mustahil bila bumi ini akan terasa lebih nyaman untuk dihuni oleh manusia dan gas rumah kaca akan ditekan seminim mungkin.

Dampak Kenaikan Permukaan Air Laut dan Banjir terhadap Kondisi Lingkungan Bio-geofisik dan Sosial-Ekonomi Masyarakat.

Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut :

  1. meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir
  2. perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove
  3. meluasnya intrusi air laut
  4. ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir
  5. berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.

Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil persegi. Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan.

  • Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada saat ini saja kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi penurunan hutan mangrove ± 50% dari total luasan semula. Apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka : abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan terancam dengan sendirinya.
  • Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan. Sebagai contoh, diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, maka intrusi air laut akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara.
  • Gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terjadi diantaranya adalah : (a) gangguan terhadap jaringan jalan lintas dan kereta api di Pantura Jawa dan Timur-Selatan Sumatera ; (b) genangan terhadap permukiman penduduk pada kota-kota pesisir yang berada pada wilayah Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pesisir di Papua ; (c) hilangnya lahan-lahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan, dan mangrove seluas 3,4 juta hektar atau setara dengan US$ 11,307 juta ; gambaran ini bahkan menjadi lebih ‘buram’ apabila dikaitkan dengan keberadaan sentra-sentra produksi pangan yang hanya berkisar 4 % saja dari keseluruhan luas wilayah nasional, dan (d) penurunan produktivitas lahan pada sentra-sentra pangan, seperti di DAS Citarum, Brantas, dan Saddang yang sangat krusial bagi kelangsungan swasembada pangan di Indonesia. Adapun daerah-daerah di Indonesia yang potensial terkena dampak kenaikan muka air laut diperlihatkan pada Gambar 1 berikut.
  • Terancam berkurangnya luasan kawasan pesisir dan bahkan hilangnya pulau-pulau kecil yang dapat mencapai angka 2000 hingga 4000 pulau, tergantung dari kenaikan muka air laut yang terjadi. Dengan asumsi kemunduran garis pantai sejauh 25 meter, pada akhir abad 2100 lahan pesisir yang hilang mencapai 202.500 ha.
  • Bagi Indonesia, dampak kenaikan muka air laut dan banjir lebih diperparah dengan pengurangan luas hutan tropis yang cukup signifikan, baik akibat kebakaran maupun akibat penggundulan. Data yang dihimpun dari The Georgetown – International Environmental Law Review (1999) menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1997 – 1998 saja tidak kurang dari 1,7 juta hektar hutan terbakar di Sumatra dan Kalimantan akibat pengaruh El Nino. Bahkan WWF (2000) menyebutkan angka yang lebih besar, yakni antara 2 hingga 3,5 juta hektar pada periode yang sama. Apabila tidak diambil langkah-langkah yang tepat maka kerusakan hutan – khususnya yang berfungsi lindung – akan menyebabkan run-off yang besar pada kawasan hulu, meningkatkan resiko pendangkalan dan banjir pada wilayah hilir , serta memperluas kelangkaan air bersih pada jangka panjang.

Antisipasi Dampak Kenaikan Muka Air Laut dan Banjir melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

Dengan memperhatikan dampak pemanasan global yang memiliki skala nasional dan dimensi waktu yang berjangka panjang, maka keberadaan RTRWN menjadi sangat penting. Secara garis besar RTRWN yang telah ditetapkan aspek legalitasnya melalui PP No.47/1997 sebagai penjabaran pasal 20 dari UU No.24/1992 tentang Penataan Ruang memuat arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang negara yang memperlihatkan adanya pola dan struktur wilayah nasional yang ingin dicapai pada masa yang akan datang.

Pola pemanfaatan ruang wilayah nasional memuat :

  1. arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan lindung (termasuk kawasan rawan bencana seperti kawasan rawan gelombang pasang dan banjir)
  2. arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan kawasan budidaya (hutan produksi, pertanian, pertambangan, pariwisata, permukiman, dsb).

Sementara struktur pemanfaatan ruang wilayah nasional mencakup

  1. arahan pengembangan sistem permukiman nasional
  2. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah nasional (seperti jaringan transportasi, kelistrikan, sumber daya air, dan air baku.

Sesuai dengan dinamika pembangunan dan lingkungan strategis yang terus berubah, maka dirasakan adanya kebutuhan untuk mengkajiulang (review) materi pengaturan RTRWN (PP 47/1997) agar senantiasa dapat merespons isu-isu dan tuntutan pengembangan wilayah nasional ke depan. (mohon periksa Tabel 3 pada Lampiran). Oleh karenanya, pada saat ini Pemerintah tengah mengkajiulang RTRWN yang diselenggarakan dengan memperhatikan perubahan lingkungan strategis ataupun paradigma baru sebagai berikut :

  • globalisasi ekonomi dan implikasinya,
  • otonomi daerah dan implikasinya,
  • penanganan kawasan perbatasan antar negara dan sinkronisasinya,
  • pengembangan kemaritiman/sumber daya kelautan,
  • pengembangan kawasan tertinggal untuk pengentasan kemiskinan dan krisis ekonomi,
  • daur ulang hidrologi,
  • penanganan land subsidence,
  • pemanfaatan jalur ALKI untuk prosperity dan security, serta
  • pemanasan global dan berbagai dampaknya.

Dengan demikian, maka aspek kenaikan muka air laut dan banjir seyogyanya akan menjadi salah satu masukan yang signifikan bagi kebijakan dan strategi pengembangan wilayah nasional yang termuat didalam RTRWN khususnya bagi pengembangan kawasan pesisir mengingat : (a) besarnya konsentrasi penduduk yang menghuni kawasan pesisir khususnya pada kota-kota pantai, (b) besarnya potensi ekonomi yang dimiliki kawasan pesisir, (c) pemanfaatan ruang wilayah pesisir yang belum mencerminkan adanya sinergi antara kepentingan ekonomi dengan lingkungan, (d) tingginya konflik pemanfaatan ruang lintas sektor dan lintas wilayah, serta (e) belum terciptanya keterkaitan fungsional antara kawasan hulu dan hilir, yang cenderung merugikan kawasan pesisir.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ADB (1994), maka dampak kenaikan muka air laut dan banjir diperkirakan akan memberikan gangguan yang serius terhadap wilayah-wilayah seperti : Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pada pesisir Barat Papua

Untuk kawasan budidaya, maka perhatian yang lebih besar perlu diberikan untuk kota-kota pantai yang memiliki peran strategis bagi kawasan pesisir, yakni sebagai pusat pertumbuhan kawasan yang memberikan pelayanan ekonomi, sosial, dan pemerintahan bagi kawasan tersebut. Kota-kota pantai yang diperkirakan mengalami ancaman dari kenaikan muka air laut diantaranya adalah Lhokseumawe, Belawan, Bagansiapi-api, Batam, Kalianda, Jakarta, Tegal, Semarang, Surabaya, Singkawang, Ketapang, Makassar, Pare-Pare, Sinjai. (Selengkapnya mohon periksa Tabel 1 pada Lampiran).

Kawasan-kawasan fungsional yang perlu mendapatkan perhatian terkait dengan kenaikan muka air laut dan banjir meliputi 29 kawasan andalan, 11 kawasan tertentu, dan 19 kawasan tertinggal. (selengkapnya mohon periksa Tabel 2 pada Lampiran).

Perhatian khusus perlu diberikan dalam pengembangan arahan kebijakan dan kriteria pengelolaan prasarana wilayah yang penting artinya bagi pengembangan perekonomian nasional, namun memiliki kerentanan terhadap dampak kenaikan muka air laut dan banjir, seperti :

  • sebagian ruas-ruas jalan Lintas Timur Sumatera (dari Lhokseumawe hingga Bandar Lampung sepanjang ± 1600 km) dan sebagian jalan Lintas Pantura Jawa (dari Jakarta hingga Surabaya sepanjang ± 900 km) serta sebagian Lintas Tengah Sulawesi (dari Pare-pare, Makassar hingga Bulukumba sepanjang ± 250 km).
  • beberapa pelabuhan strategis nasional, seperti Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Mas (Semarang), Pontianak, Tanjung Perak (Surabaya), serta pelabuhan Makassar.
  • Jaringan irigasi pada wilayah sentra pangan seperti Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur dan Sulawesi bagian Selatan.
  • Beberapa Bandara strategis seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar, dan Semarang.

Untuk kawasan lindung pada RTRWN, maka arahan kebijakan dan kriteria pola pengelolaan kawasan rawan bencana alam, suaka alam-margasatwa, pelestarian alam, dan kawasan perlindungan setempat (sempadan pantai, dan sungai) perlu dirumuskan untuk dapat mengantisipasi berbagai kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi.

Selain antisipasi yang bersifat makro-strategis diatas, diperlukan pula antisipasi dampak kenaikan muka air laut dan banjir yang bersifat mikro-operasional. Pada tataran mikro, maka pengembangan kawasan budidaya pada kawasan pesisir selayaknya dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang direkomendasikan oleh IPCC (1990) sebagai berikut :

  • Relokasi ; alternatif ini dikembangkan apabila dampak ekonomi dan lingkungan akibat kenaikan muka air laut dan banjir sangat besar sehingga kawasan budidaya perlu dialihkan lebih menjauh dari garis pantai. Dalam kondisi ekstrim, bahkan, perlu dipertimbangkan untuk menghindari sama sekali kawasan-kawasan yang memiliki kerentanan sangat tinggi.
  • Akomodasi ; alternatif ini bersifat penyesuaian terhadap perubahan alam atau resiko dampak yang mungkin terjadi seperti reklamasi, peninggian bangunan atau perubahan agriculture menjadi budidaya air payau (aquaculture) ; area-area yang tergenangi tidak terhindarkan, namun diharapkan tidak menimbulkan ancaman yang serius bagi keselamatan jiwa, asset dan aktivitas sosial-ekonomi serta lingkungan sekitar.
  • Proteksi ; alternatif ini memiliki dua kemungkinan, yakni yang bersifat hard structure seperti pembangunan penahan gelombang (breakwater) atau tanggul banjir (seawalls) dan yang bersifat soft structure seperti revegetasi mangrove atau penimbunan pasir (beach nourishment). Walaupun cenderung defensif terhadap perubahan alam, alternatif ini perlu dilakukan secara hati-hati dengan tetap mempertimbangkan proses alam yang terjadi sesuai dengan prinsip “working with nature”.

Sedangkan untuk kawasan lindung, prioritas penanganan perlu diberikan untuk sempadan pantai, sempadan sungai, mangrove, terumbu karang, suaka alam margasatwa/cagar alam/habitat flora-fauna, dan kawasan-kawasan yang sensitif secara ekologis atau memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan alam atau kawasan yang bermasalah. Untuk pulau-pulau kecil maka perlindungan perlu diberikan untuk pulau-pulau yang memiliki fungsi khusus, seperti tempat transit fauna, habitat flora dan fauna langka/dilindungi, kepentingan hankam, dan sebagainya.

Agar prinsip keterpaduan pengelolaan pembangunan kawasan pesisir benar-benar dapat diwujudkan, maka pelestarian kawasan lindung pada bagian hulu – khususnya hutan tropis – perlu pula mendapatkan perhatian. Hal ini penting agar laju pemanasan global dapat dikurangi, sekaligus mengurangi peningkatan skala dampak pada kawasan pesisir yang berada di kawasan hilir.

Kebutuhan Intervensi Kebijakan Penataan Ruang dalam rangka Mengantisipasi Dampak Pemanasan Global terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Dalam kerangka kebijakan penataan ruang, maka RTRWN merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dapat dimanfaatkan untuk dampak pemanasan global terhadap kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Namun demikian, selain penyiapan RTRWN ditempuh pula kebijakan untuk revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang yang berorientasi kepada pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tingkat kedalaman yang lebih rinci.

Intervensi kebijakan penataan ruang diatas pada dasarnya ditempuh untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut :

  • Mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada kawasan pesisir, termasuk kota-kota pantai dengan segenap penghuni dan kelengkapannya (prasarana dan sarana) sehingga fungsi-fungsi kawasan dan kota sebagai sumber pangan (source of nourishment) dapat tetap berlangsung.
  • Mengurangi kerentanan (vulnerability) dari kawasan pesisir dan para pemukimnya (inhabitants) dari ancaman kenaikan muka air laut, banjir, abrasi, dan ancaman alam (natural hazards) lainnya.
  • Mempertahankan berlangsungnya proses ekologis esensial sebagai sistem pendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati pada wilayah pesisir agar tetap lestari yang dicapai melalui keterpaduan pengelolaan sumber daya alam dari hulu hingga ke hilir (integrated coastal zone management).
  • Untuk mendukung tercapainya upaya revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang, maka diperlukan dukungan-dukungan, seperti : (a) penyiapan Pedoman dan Norma, Standar, Prosedur dan Manual (NSPM) untuk percepatan desentralisasi bidang penataan ruang ke daerah – khususnya untuk penataan ruang dan pengelolaan sumber daya kawasan pesisir/tepi air; (b) peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta pemantapan format dan mekanisme kelembagaan penataan ruang, (c) sosialisasi produk-produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public awareness campaig, (d) penyiapan dukungan sistem informasi dan database pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang memadai, serta (e) penyiapan peta-peta yang dapat digunakan sebagai alat mewujudkan keterpaduan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-kecil sekaligus menghindari terjadinya konflik lintas batas.
  • Selanjutnya, untuk dapat mengelola pembangunan kawasan pesisir secara efisien dan efektif, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat otonomi daerah yang disusun dengan memperhatikan faktor-faktor berikut :
  • Keterpaduan yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan kawasan pesisir sehingga tercipta konsistensi pengelolaan pembangunan sektor dan wilayah terhadap rencana tata ruang kawasan pesisir.
  • Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat (participatory planning process) dalam pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir yang transparan dan accountable agar lebih akomodatif terhadap berbagai masukan dan aspirasi seluruh stakeholders dalam pelaksanaan pembangunan.
  • Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kota-kota pantai, antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah
  • Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen – baik PP, Keppres, maupun Perda – untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya role sharing yang ‘seimbang’ antar unsur-unsur stakeholders.

BAB IV

PENUTUP

A.Kesimpulan

            Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan :

  1. Mengenai pengertian Global warming (Pemanasan Global), bahwa Global warming adalah peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi (terutama yang mengalami kenaikan suhu yang menyebabkan perubahan iklim) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.
  2. Penyebab terjadinya Global warming adalah penyebab efek rumah kaca terjadi yaitu karena penggunaan kendaraan yang kurang bijaksana yang mengakibatkan polusi udara semakin meningkat secara drastis, menimbulkan karbon dioksida yang berlebihan sehingga cahaya matahari yang masuk ke bumi dan dipantulkan lagi tidak dapat menembus atmosfer bumi karena terhalang oleh karbon dioksida yang ditimbulkan dari polusi udara tersebut sehingga akan terasa lebih hangat.
  3. Dampak dari pemanasan global antara lain adalah ketinggian gunung berkurang, pelelehan besar-besaran yang terjadi di kutub-kutub, menggaggu kehidupan di bumi baik kehidupan manusia maupun ekologi yang berada di bumi, timbul berbagai penyakit, terutama penyakit kulit dan kelaparan serta malnutrisi karena musim panas yang berkepanjangan akan mengakibatkan gagal panen pada sektor pertanian

B.Saran

Dari beberapa kesimpulan tersebut di atas, maka penulis memberikan saran yang bermanfaat di kemudian hari sebagai berikut :

  1. Perlu meningkatkan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan.
  2. Perlu untuk membatasi emisi karbondioksida
  3. Perlunya kita menanam banyak pohon untuk menjaga penghijauan lingkungan
  4. Perlunya kita senantiasa untuk menggunakan bahan daur ulang

Perlunya kita menggunakan alat transportasi alternative untuk mengurangi emisi karbon

 

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Susanta,Gatut.dkk. 2007.  Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global.

Internet :

www.livescience.com

Fakultas Geografi.UGM.Pemanasan Global.diakses pada 2 oktober 2007

SMAN 1 Garut.Global Warming diakses 22 Januari 2010

http://www.suprememastertv.com/

http://www.worldwatch.org/node/6294

http://vegclimatealliance.org/livestock-and-climate-change-qa

wordnetweb.princeton.edu

www.mdbc.gov.au


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: