Beranda » Lembar Pendidikan » LIFE-CYCLE ASSESSMENT (LCA)

LIFE-CYCLE ASSESSMENT (LCA)

Key Word

'....inspirasi menemukan solusi dan Kita pencipta inspirasi..."

Sapa Setiadi Wira Buana

Follow

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

setiadiwirabuana@gmail.com

Bergabunglah dengan 260 pengikut lainnya

kategori inspirasi

Blog Stats

  • 241,411 penata bangsa

Berbagi Inspirasi

  1. LATAR BELAKANG

LED (Light Emitting Diode) adalah dioda yang dapat mengemisikan cahaya. Pencahayaan menggunakan lampu LED memiliki potensi untuk melampaui banyak teknologi pencahayaan konvensional dalam hal efisiensi energi, umur hidup, keserbagunaan, dan kualitas warna. Pencahayaan menggunakan LED juga diperkirakan akan mewakili 46% dari penerangan umum dalam lumen-jam pada tahun 2030.

merk

Meningkatkan efisiensi energi dengan menggunakan lampu LED merupakan langkah yang sangat efektif untuk mengurangi penggunaan energi listrik. Selain itu, masa penggunaan lampu LED atau umur hidup lampu LED lebih lama dibandingkan produk penerangan lainnya, sehingga jelas dapat mengurangi dampak lingkungan yang terjadi, misalnya limbah padat dari lampu LED yang tak terpakai.

Meski demikian, diperlukan kajian tentang material dan sumber daya energi yang digunakan pada fase-fase awal dari siklus hidup lampu tersebut untuk mengetahui apakah langkah tersebut benar-benar layak dilakukan. Dengan kata lain, meskipun energi yang dikonsumsi selama penggunaan lampu LED kurang dari energi yang dikonsumsi oleh lampu CFL (Compact Fluorescent Lamp) atau lampu neon dan lampu pijar, hal ini memunculkan pertanyaan tentang kebermanfaatan pengurangan penggunaan energi listrik dan manfaat lingkungan yang dicapai selama masa penggunaan lampu LED sebanding dengan energi dan dampak lingkungan yang terjadi di fase-fase awal siklus hidup lampu LED.

Laporan ini merujuk pada laporan yang disusun oleh U.S Department of Energy (DOE) tentang Life Cycle Assessment of Energy and Environmental Impacts of LED Lighting Products. Meskipun lampu LED telah diproduksi dalam berbagai faktor bentuk lampu, laporan ini hanya akan menganalisis LCA untuk lampu-lampu GLS (General Lighting Service), yaitu lampu-lampu yang digunakan untuk menggantikan lampu pijar tipe A (biasanya lampu untuk perumahan). Hal ini karena lebih dari tiga juta instalasi di U.S menggunakan lampu-lampu GLS. Lampu-lampu GLS yang dimaksud adalah lampu pijar, CFL, dan lampu LED. Pada tahun 2012, 72% dari GLS adalah lampu pijar, 27% dari GLS adalah CFL, dan hanya 1% dari GLS yang merupakan lampu LED. Dengan demikian, perbandingan energi total yang dikonsumsi selama siklus hidup di laporan inni, dilakukan terhadap lampu LED, lampu pijar, dan CFL.

Tujuan dari laporan ini adalah untuk mengetahui data-data LCA untuk lampu LED sehingga dapat dibandingkan dengan lampu pijar dan CFL serta untuk mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh ketiga teknologi penera-ngan tersebut berdasarkan laporan yang disusun oleh DOE.

 

  1. LIFE-CYCLE ASSESSMENT

Life-Cycle Assessment (LCA) adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi konsumsi energi dan bahan mentah, emisi yang dikeluarkan ke lingkungan, dan limbah lainnya yang berkaitan dengan siklus hidup suatu produk atau sistem. Siklus hidup suatu produk atau sistem adalah siklus dari mulai produk itu tidak ada atau masih berupa bahan mentah yang ada di alam, kemudian diproses menjadi produk, sampai produk itu tidak bisa digunakan lagi dan menjadi limbah padat yang dibuang ke alam. Menurut ISO, skema langkah kerja LCA ditunjukkan oleh Gambar 2.1.

gambar 2.1

Gambar 2.1. Langkah Kerja LCA

 

Langkah awal adalah Defining Goal, Scope, and Boundary Definition. Langkah ini akan menentukan tujuan dibuatnya LCA dan mendeskripsikan kegunaan yang diharapkan dari hasil LCA. Sesuai bab 1, laporan LCA yang merujuk pada laporan yang dibuat oleh DOE tentang Life Cycle Assessment of Energy and Environmental Impacts of LED Lighting Products ini bertujuan untuk mengetahui data-data LCA untuk lampu LED sehingga dapat dibandingkan dengan lampu pijar dan CFL serta untuk mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh ketiga teknologi penerangan tersebut. Pada langkah ini juga akan ditentukan scope dan batasan yang mendefinisikan proses apa saja yang dikaji dan jangkauan dari analisis. Berdasaran laporan yang dibuat oleh DOE, laporan LCA ini membatasi jangkauan analisis hanya pada tahap material acquisition, raw material processing, manufacturing and assembly, transpor-tation, dan usage.

Langkah berikutnya adalah Life-Cycle Inventory (LCI) Analysis. Langkah ini termasuk pengumpulan data dan perhitungan untuk mengkuantifikasi input dan output dari sebuah sistem produk (sebuah set komplit yang meliputi kegiatan produksi, penggunaan, sampai pembuangan). Data yang dimaksud di sini adalah nilai kuantisasi dari energi dan bahan mentah yang digunakan dan limbah serta emisi yang dikeluarkan ke alam. Secara sederhana, tahapan proses yang tergabung dalam sebuah sistem produk dapat ditunjukkan oleh Gambar 2.2.

gambar 2.2

Gambar 2.2. Tahapan Life-Cycle

 

Tahap primary resource acquistion atau material acquisition adalah tahap dimana bahan mentah diambil dari alam. Di dalam laporan ini, akuisisi bahan mentah meliputi bahan yang tidak dapat diperbarui seperti aluminium, mercury, dan tungsten.

Tahap raw material processing adalah tahap dimana bahan mentah yang diakuisisi diubah menjadi bentuk yang dapat digunakan untuk memfabrikasi sebuah produk jadi.

Tahap manufacturing and assembly adalah tahap dimana bahan yang keluar dari raw material processing diproses dan dirakit hingga menjadi barang jadi, lalu dikemas dan ditransportasikan atau didistribusikan kepada konsumen. Transpor-tasi yang dimaksud di sini boleh jadi melalui darat, laut, dan udara.

Tahap usage adalah tahap dimana produk jadi digunakan oleh konsumen. Tahap ini meliputi energi yang dibutuhkan dalam pengoperasian produk selama masa penggunaan atau umur hidup produk tersebut dan limbah lingkungan yang terjadi selama penggunaan produk.

Tahap end of life adalah tahap dimana konsumen tidak lagi membutuhkan produk tersebut. Tahap ini meliputi energi yang dibutuhkan dan limbah ling-kungan yang dihasilkan berkenaan dengan kegiatan pembuangan dan/atau kegiatan recycling. Kegiatan recycling dibutuhkan untuk mengurangi bahan mentah pada tahap raw material processing sehingga energi yang dibutuhkan untuk mendapatkan bahan mentah dari alam dan limbah serta emisi ke lingkungan pada tahap tersebut dapat dikurangi.

Setelah mendapatkan nilai-nilai kuantisasi dari setiap tahap atau dengan kata lain data LCI sudah didapatkan, maka langkah selanjutnya dalam LCA adalah Life-Cycle Impact Assessment (LCIA). Langkah ini akan membahas dampak potensial terhadap lingkungan. Jika hasil LCI fokus pada kuantisasi tahap-tahap pada Gambar 2.2, maka pada hasil LCIA adalah turunan akibat limbah dan emisi yang dikeluarkan oleh tahap-tahap tersebut.

Langkah terakhir adalah Interpretation. Langkah ini meliputi pengambilan kesimpulan dan rekomendasi berkaitan dengan hasil LCI dan LCIA. Langkah ini boleh jadi akan memerlukan tinjauan ulang terhadap langkah-langkah sebelumnya jika diperlukan.

 

  1. ANALISIS ENERGI LIFE-CYCLE

Beberapa prosedur untuk menstandarisasi data life-cycle pada laporan ini adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan performasi produk dan mendefinisikan functional unit.
  2. Mendefinisikan tahap-tahap dalam life-cycle yang akan dianalisis.
  3. Menarik kesimpulan dari data-data LCA.

 

  • Performasi Lampu dan Functional Unit

Produk lampu LED, lampu pijar, dan CFL merepresentasikan teknologi penerangan yang berbeda, sehingga karakteristik teknologi yang terdapat tersebut berbeda-beda pula. Untuk itu, perlu ditentukan satuan yang sama agar ketiga teknologi tersebut dapat dibandingkan. Pada laporan ini, satuan yang digunakan untuk membandingkan performasi ketiga teknologi penerangan tersebut adalah lumen (untuk merepresentasikan flux cahaya yang dipancarkan oleh lampu), watt (untuk merepresentasikan daya listrik yang digunakan untuk menghasilkan flux cahaya), dan jam (untuk merepresentasikan umur hidup lampu). Performasi ketiga teknologi penerangan tersebut ditunjukkan oleh tabel 3.1.

tabel 3.1

Tabel 3.1. Data Performasi LED, Lampu Pijar, dan CFL Tahun 2011

 

Untuk membandingkan performasi ketiga teknologi tersebut, dapat dilihat dengan cara membandingkan nilai lumen dengan watt yang ditunjukkan oleh tabel 3.1 untuk ketiga teknologi. Nilai lm/watt untuk lampu pijar sesuai tabel tersebut adalah 15 lm/watt, CFL adalah 60 lm/watt, LED di tahun 2011 adalah 64 lm/watt sementara tahun 2015 diperkirakan dapat mencapai 137,93 lm/watt. Data tahun 2015 yang ditunjukkan oleh tabel 3.1 adalah data yang didapatkan dari proyeksi efisiensi yang dilakukan oleh DOE. Dengan melihat nilai lm/watt tersebut, dapat dilihat bahwa lampu LED telah mengungguli lampu pijar dan CFL di tahun 2011.

Selain melihat nilai lm/watt, dapat pula melihat lamanya umur hidup ketiga teknologi penerangan tersebut dalam jam untuk mendapatkan gambaran perfor-masi ketiga teknologi penerangan tersebut. Dari tabel 3.1 dapat dilihat bahwa lampu LED telah jauh menggungguli dua teknologi lainnya dalam hal umur hidup produk di tahun 2011 dan akan semakin jauh menggunguli dua teknologi lainnya di tahun 2015.

Untuk keperluan analisis life-cycle, diperlukan informasi tentang functional unit. Functional unit itu sendiri adalah ukuran fungsional yang digunakan saat meninjau dampak lingkungan dari beberapa sistem produk. Pada laporan ini, satuan untuk functional unit yang digunakan adalah lumen-jam karena satuan ini menggambarkan penerangan yang dapat dihasilkan oleh sebuah produk selama umur hidup produk tersebut. Pada laporan ini juga ditentukan besar functional unit adalah 20 juta lumen-jam untuk semua teknologi. Banyaknya lampu yang dibutuhkan untuk mensuplai 20 juta lumen-jam ditunjukkan oleh Gambar 3.1.

gambar 3.1

Gambar 3.1. Jumlah Lampu Yang dibutuhkan Untuk Mensuplai

20 Juta Lumen-Jam

 

Dengan melihat Gambar 3.1 dapat ditarik kesimpulan bahwa lampu LED mengungguli dua teknologi lainnya dalam hal performasi yang ditunjukkan dengan banyaknya lampu yang dibutuhkan untuk mensuplai 20 juta lumen-jam. Untuk mensuplai 20 juta lumen-jam, lampu LED hanya membutuhkan sebuah lampu, CFL membutuhkan tiga buah lampu, dan lampu pijar membutuhkan 22 lampu.

 

  • Tahap Manufacturing

Tahap Manufacturing yang akan dibahas di sini meliputi tiga tahap awal yang ditunjukkan oleh Gambar 2.2, yaitu primary resources acquisition, raw material processing, dan manufacturing/assembly. Hal ini disebabkan karena sulitnya memisahkan data pada tahap raw material processing dan tahap manufacturing/assembly.

Carnegie Mellon Article yang berjudul Reducing Environmental Burdens of Solid-State Lighting through End-of-Life Design (Hendrickson, 2010) menyatakan bahwa komponen-komponen sebuah lampu LED ditunjukkan oleh Tabel 3.2.

 

tabel 3.2

 Tabel 3.2. Komponen-komponen Lampu LED

 

Tabel 3.2 menunjukkan salah satu contoh komponen-komponen lampu LED yang telah diproduksi di tahun 2010, sementara Tabel 3.3 menunjukkan komponen-komponen lampu LED, lampu pijar, dan CFL beserta jangkauan masa totalnya dalam satuan gram.

 

Tabel 3.3. Komponen-komponen Lampu LED, Lampu Pijar, dan CFL

 

Contoh pada Tabel 3.2 menunjukkan bahwa masa total untuk membuat sebuah lampu LED mencapai 82,7 g. Hal ini dipertegas pada Tabel 3.3 yang menyatakan bahwa masa total sebuah lampu LED memiliki jangkauan antara 83-290 g. Masa total lampu LED ternyata lebih besar dibandingkan masa toal lampu pijar dan CFL yang masing-masing hanya mencapai 30-32 g dan 91-110 g. Tabel 3.2 dan Tabel 3.3 memberikan gambaran material-material apa saja yang dibutuhkan pada tahap primary resources acquisition sebelum masuk ke tahap raw material processing.

Tahap manufacturing/assembly produk lampu LED pada dasarnya sangatlah kompleks. Meski demikian, dapat disederhanakan menjadi:

  1. Substrate Production
  2. LED Die Fabrication
  3. Packaged LED Assembly

Tahap Substrate Production meliputi penyiapan susunan lapisan tipis dari silicon carbide atau sapphire untuk digunakan dalam sebuah reaktor Metal Organic Chemical Vapor Deposition (MOCVD). Hasil akhir dari Substrate Production adalah susunan lapisan tipis yang telah halus.

Tahap LED Die Fabrication diawali dengan membuat LED epi-wafer dengan menggunakan MOCVD, kemudian LED epi-wafer dibuat menjadi peralatan LED (LED die) yang siap dipak. Terakhir, substrate dihilangkan, sehingga didapatkan beberapa LED die. Setelah itu, barulah LED die siap dipak.

Tahap akhir adalah Packaged LED Assembly. LED die yang telah difabrikasi kemudian diberi housing, konektor ke listrik, diberi lapisan fosfor, dan lain sebagainya. Setelah itu, barulah LED diklasifikasikan berdasarkan perfor-masinya.

Proses manufacturing LED lebih kompleks dibandingkan dengan lampu pijar dan CFL. Ukuran lampu LED bervariasi, karena beberapa lampu LED terdiri atas sebuah LED, beberapa yang lain terdiri atas beeberapa LED. Dengan banyaknya variasi LED baik itu dari segi ukuran, bentuk, dan distribusi cahayanya, menyebabkan energi yang digunakan pada tahap manufacturing menjadi beragam. Oleh karena itu, pada laporan ini hanya tersedia data energi manufacturing yang dinyatakan dalam sebuah jangkauan tertentu. Hal ini juga diterapkan pada lampu pijar dan CFL.

Jangkauan konsumsi energi di tahap manufacturing untuk lampu LED, lampu pijar, dan CFL ditunjukkan oleh Tabel 3.4.

tabel 3.4

Tabel 3.4. Konsumsi Energi Tahap Manufacturing (MJ/20 Juta Lumen-Jam)

 

Data yang ditampilkan pada Tabel 3.4 adalah besar konsumsi energi di tahap Manufacturing yang dinyatakan dalam Mega Joule/20 Juta Lumen-Jam, dimana 20 Juta Lumen-Jam adalah functional unit yang telah ditetapkan. Dari Tabel 3.4 dapat dilihat bahwa rata-rata konsumsi energi tahap Manufacturing  di tahun 2011 untuk lampu pijar, CFL, dan lampu LED masing-masing adalah 42,2 MJ/20 Juta Lumen-Jam, 170 MJ/Lumen-Jam, dan 343 MJ/Lumen-Jam. Dengan demikian, dapat memberikan gambaran bahwa konsumsi energi untuk CFL mencapai empat kali lipat konsumsi energi untuk lampu pijar, sementara konsumsi energi untuk lampu LED mencapai delapan kali lipatnya. Konsumsi energi paling besar untuk lampu LED terjadi pada pengemasan lampu LED tersebut. Dengan demikian, pengemasan lampu LED membawa peranan penting pada total konsumsi energi tahap Manufacturing untuk lampu LED.

 

  • Tahap Pendistribusian

Tahap pendistribusian adalah tahap dimana produk-produk lampu yang telah dikemas, didistribusikan dari pabrik pembuatannya menuju outlet-outlet yang akan menjual produk-produk tersebut. Dengan demikian, tahap ini adalah tahap di antara Manufacturing/Assembly dengan Usage. Data yang menyatakan konsumsi energi di tahap ini sangatlah terbatas, sehingga di laporan ini, tidak ada standarisasi dalam penentuan konsumsi energi di tahap ini.

Untuk mendapatkan besar konsumsi energi di tahap ini, pertama perlu ditentukan dahulu tempat asal atau tempat diproduksinya produk-produk lampu tersebut. Kedua, energi dihitung berdasarkan jarak, jenis alat transportasinya, dan estimasi kapasitas alat tersebut. Terakhir, energi tersebut diubah ke dalam functional unit yang telah ditetapkan.

Untuk penyederhanaan, tempat produksi lampu pijar hanya ditentukan dari dua tempat, yaitu Northeastern U.S. atau Shanghai, China. Oleh karena itu, konsumsi energi transportasi untuk lampu pijar adalah kombinasi dari dua tempat tersebut. Jika ditinjau dari Northeastern U.S., produk lampu pijar akan didistribusikan menggunakan truk ke outlet-outlet di Washington DC (karena laporan ini hanya meninjau produk-produk lampu pijar, CFL dan lampu LED di U.S.), sementara jika ditinjau dari Shanghai, China, diasumsikan produk lampu didistribusikan menggunakan kapal dari Pelabuhan Shanghai menuju Pelabuhan Los Angeles. Kemudian barulah didistribusikan menggunakan truk keoutle-outlet di Washington DC.

China adalah manufacturer CFL terbesar di dunia (USAID, 2008), oleh karena itu, tempat produksi CFL diasumsikan di Shanghai, China. Dengan demi-kian, cara pendistribusiannya mirip dengan pendistribusian lampu pijar yang berasal dari Shanghai, China.

Kegiatan manufacture lampu LED terkonsentrasi di Asia (Young, 2011), oleh karena itu untuk penyederhanaan produksi LED lengkap ditentukan di Taiwan kemudian dirangkai di Taiwan atau di Southeast U.S. Sehingga konsumsi energi pendistribusian lampu LED akan merupakan kombinasi dari dua tempat tersebut.

Tabel 3.5 menunjukkan konsumsi energi pendistribusian/transportasi untuk lampu LED,lampu pijar, dan CFL per kilogram dan per functional unit yang telah ditetapkan yaitu 20 Juta Lumen-Jam.

tabel 3.5

Tabel 3.5. Konsumsi Energi Tahap Pendistribusian

Dari Tabel 3.5 konsumsi energi transportasi rata-rata terkecil adalah lampu pijar, disusul CFL, kemudian lampu LED. Perbedaan konsumsi energi ini berdasarkan perbedaan tempat dimana lampu-lampu tersebut dimanufacture. Untuk lampu LED yang diproduksi tahun 2015 diestimasikan konsumsi energi transportasi rata-ratanya menurun dari tahun 2011. Hal ini berkaitan dengan umur hidup lampu LED yang semakin panjang, sehingga mengurangi pendistribusian lampu di tahun itu dan secara otomais akan mengurangi konsumsi energi di bidang transportasi di tahun itu.

  • Tahap Penggunaan

Konsumsi energi di tahap penggunaan adalah konsumsi energi listrik untuk menghasilkan cahaya. Perhitungan energi life-cycle di tahap penggunaan ini merepresentasikan energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan 20 Juta Lumen-Jam. Oleh karena itu, perhitungan konsumsi energi life-cycle untuk lampu pijar di tahap penggunaan selama umur hidupnya dilakukan pada 22 lampu pijar, tiga buah untuk CFL, dan sebuah lampu LED. Tabel 3.6 menunjukkan besar konsumsi energi di tahap penggunaan untuk lampu LED, lampu pijar, dan CFL.

tabel 3.6

Tabel 3.6. Konsumsi Energi Di Tahap Penggunaan

Tabel 3.6 menunjukkan bahwa lampu pijar mengkonsumsi energi paling besar di tahap penggunaan selama umur hidupnya, disusul CFL, kemudian lampu LED. Hal ini tentulah berkaitan dengan nilai lm/watt yang merupakan perban-dingan antara lumens dengan watt. Diperkirakan pada tahun 2015, lampu LED akan mengkonsumsi energi setengah kali dibandingkan lampu LED di tahun 2011.

 

  • Total Konsumsi Energi

Total konsumsi energi life-cycle adalah total energi yang dikonsumsi dari keseluruhan tahap life-cycle. Total konsumsi energi untuk lampu LED ditun-jukkan oleh Gambar 3.2. Dari gambar tersebut, dapat dilihat bahwa konsumsi energi di tahap penggunaan membawa andil sangat besar dalam perhitungan total konsumsi energi life-cycle.

gambar 3.2

Gambar 3.2. Total Konsumsi energi Life-Cycle Lampu LED

(MJ/20 Juta Lumen-Jam)

 

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, besar konsumsi energi dinyatakan dalam suatu jangkauan tertentu. Hal ini berkaitan dengan minimnya data yang didapatkan untuk menggambarkan besar konsumsi energi life-cycle, misalnya saja minimnya data konsumsi energi di tahap Manufacturing karena dari pihak manufacturer-nya tidak menyediakan data yang komplit dengan alasan privasi. Gambar 3.3 menunjukkan total konsumsi energi life-cycle untuk lampu LED, lampu pijar, dan CFL per functional unit.

gambar 3.3

Gambar 3.3. Total Konsumsi Energi Life-Cycle

(MJ/20 Juta Lumen-Jam)

Dari Gambar 3.3 tampak bahwa untuk menghasilkan 20 Juta Lumen-Jam, lampu pijar membutuhkan energi paling besar diantara semuanya. Sementara LED mengkonsumsi energi paling sedikit di antara semuanya. Di tahun 2015, lampu LED mengkonsumsi energi lebih sedikit lagi, sekitar setengah kali konsumsi energi lampu LED di tahun 2011. Dari gambar tersebut pula tampak bahwa konsumsi energi paling besar terjadi di tahap penggunaan baik itu untuk lampu LED, lampu pijar, dan CFL. Tabel 3.7 menunjukkan konsumsi energi life-cycle untuk ketiga teknologi penerangan yang dinyatakan dalam angka.

tabel 3.7

Tabel 3.7. Konsumsi Energi Life-Cycle Untuk Ketiga Teknologi Penerangan

(MJ/20 Juta Lumen-Jam)

 

Besar konsumsi energi sepanjang life-cycle untuk lampu LED dan CFL sekitar 3.900 MJ/20 Juta Lumen-Jam, sementara lampu pijar mencapai 15.100 MJ/20 Juta Lumen-Jam. Hal ini berarti konsumsi energi sepanjang life-cycle untuk lmapu pijar adalah satu setengah kali dari konsumsi energi untuk lampu LED dan CFL.

 

  1. DAMPAK LINGKUNGAN

Tiga teknologi penerangan yang ditinjau, yaitu lampu LED, lampu pijar, dan CFL, memiliki dampak lingkungan yang berbeda-beda. Berdasarkan laporan yang disusun oleh DOE, tidak ada data mengenai dampak lingkungan yang disebabkan oleh ketiga teknologi penerangan tersebut di tahun 2011. Meski demikian, DOE mencantumkan data dampak lingkungan untuk ketiga teknologi penerangan tersebut di tahun 2012. Gambar 4.1 menunjukkan dampak lingkungan yang disebabkan oleh ketiga teknologi penerangan tersebut.

gambar 4.1

Gambar 4.1 

 

Gambar 4.1 memang tidak mencantumkan kuantisasi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh ketiga teknologi penerangan tersebut, tetapi dapat dilihat bahwa lampu pijar menimbulkan dampak lingkungan yang paling dibanding dua teknologi penerangan lainnya di berbagai aspek. Lampu LED memiliki dampak lingkungan yang paling rendah diantara ketiganya, kecuali untuk lampu LED di tahun 2012 untuk aspek Hazardous Waste Landfill. DOE mencatat bahwa dampak lingkungan lampu LED di tahun 2012 mengungguli CFL untuk aspek tersebut. Hal ini berkaitan dengan material yang digunakan untuk menyusun lampu LED dan CFL. Meski demikian, lampu LED di tahun 2017 diprediksikan akan menyebabkan dampak lingkungan yang lebih rendah dibanding lampu LED di tahun 2012.

 

  1. KESIMPULAN

Lampu LED adalah teknologi penerangan yang paling sedikit mengkon-sumsi energi sepanjang life-cycle-nya. Dengan demikian, teknologi lampu LED berpotensi besar untuk penghematan energi di sektor penerangan. Konsumsi energi paling besar sepanjang life-cycle terjadi pada saat tahap penggunaan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Gambar 3.3. Hal ini berkaitan dengan performasi setiap teknologi penerangan yang ditinjau.

Ketidakpastian yang paling besar dalam menentukan besar konsumsi energi sepanjang life-cycle adalah pada tahap Manufacturing yang meliputi Primary Resources Acquisition, Raw Material Processing, dan Manufacturing/Assembly. Karena hal itulah besar konsumsi energi dinyatakan dalam suatu jangkauan tersentu.

Ditinjau dari dampak lingkungan yang disebabkan oleh ketiga teknologi penerangan yang ditinjau, lampu LED adalah teknologi penerangan yang memiliki dampak lingkungan paling sedikit di antara ketiganya. Dengan demi-kian, dapat disimpulkan bahwa lampu LED adalah teknologi penerangan yang paling ramah lingkungan di antara ketiganya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: