Beranda » Lembar Pendidikan » Peningkatan Kompetensi Guru dengan “Nge-blog”

Peningkatan Kompetensi Guru dengan “Nge-blog”

Key Word

'....inspirasi menemukan solusi dan Kita pencipta inspirasi..."

Sapa Setiadi Wira Buana

Follow

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

setiadiwirabuana@gmail.com

Bergabunglah dengan 260 pengikut lainnya

kategori inspirasi

Blog Stats

  • 241,411 penata bangsa

Berbagi Inspirasi

Berdasarkan UU Guru dan dosen bahwa tenaga pengajar harus memiliki kulifikasi. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan dll. Guru dituntut untuk meningkatkan kompetensinya dalam segala bidang yaitu kompetensi pedagogig, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.

Selama ini guru selalu dikebiri dengan kebijakan-kebijakan yang terkesan spontan, dramatis, dan perlu penyesuaian diri yang sangat cepat. Di sisi lain guru menanggung beban yang sangat berat dengan banyak agenda untuk menciptakan kualitas lulusan yang kritis, cerdas, terbuka, produktif dan berakhlak mulia seperti yang diamanatkan oleh berbagai tuntutan, baik dari pemerintah maupun stakeholders pendidikan lainnya. Yang lebih parah lagi, pengembangan diri dan kompetensi dalam konteks pelaksanaan tugas profesinya sangat terbatas.

Salah satu alternatif dalam pengembanagn kualitas diri dan kompetensi adalah dengan Nge-blog. Karena Weblog adalah media yang sangat interaktif, media yang sangat dinamis untuk menambah wawasan sekaligus untuk eksistensi diri. Blog adalah budaya digital tersendiri dan komunitas elektroniknya bertebaran di internet dan dengan sedemikian banyak Blog di Internet yang selalu mencari website-website yang menarik maka Blog menjadi unik . Jon Katz dalam tulisannya di Slashdot, Here Come The Weblog, May 1999, menggambarkan Blog sebagai rangkaian evolusi menuju “New Media”. Blog berhasil mendemostrasikan banyak hal tentang budaya interaktif yang disukai orang, terutama anak-anak muda, tulisnya.

  1. Kompetensi Guru

Kompetensi pendidik merupakan pilar penting dalam menopang pencapaian mutu pendidikan secara menyeluruh. Kompetensi merupakan seperangkat kemampuan yang harus dimiliki guru searah dengan kebutuhan pendidikan di sekolah (kurikulum), tuntutan masyarakat, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetensi dimaksud meliputi kompetensi Keterampilan proses dan penguasaan pengetahuan.

– Kompetensi Pribadi

Guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Oleh karena itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Sebagai seorang model guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies), di antaranya: (1) kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya; (2) kemampuan untuk menghormati dan menghargai antarumat beragama; (3) kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat; (4) mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru misalnya sopan santun dan tata karma dan; (5) bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

– Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyesuaian tugas-tugas keguruan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting. Oleh sebab langsung berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Oleh sebab itu, tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi sebagai berikut: (1) kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai baik tujuan nasional, institusional, kurikuler dan tujuan pembelajaran; (2) pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham tentang tahapan perkembangan siswa, paham tentang teori-teori belajar; (3) kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya; (4) kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran; (5) kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar; (6) kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran; (7) kemampuan dalam menyusun program pembelajaran; (8) kemampuan dalam melaksanakan unsur penunjang, misalnya administrasi sekolah, bimbingan dan penyuluhan dan; (9) kemampuan dalam melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerja.

– Kompetensi Sosial Kemasyarakatan

Kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan sebagai makhluk sosial, meliputi: (1) kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional; (2) kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan dan; (3) kemampuan untuk menjalin kerja sama baik secara individual maupun secara kelompok.

2. Blog The New Media

Blog adalah kependekan dari Weblog, istilah yang pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Jorn Barger menggunakan istilah Weblog untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri.

Blog pertama adalah halaman What’s New pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Mosaic adalah browser pertama sebelum adanya Internet Explorer bahkan sebelum Nestcape. Pada Januari 1994 Justin Hall memulai website pribadinya Justin’s Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground.

Hingga pada tahun 1998, jumlah Blog yang ada belumlah seberapa. Hal ini disebabkan karena saat itu diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus tentang pembuatan website, HTML, dan web hosting untuk membuat Blog, sehingga hanya mereka yang berkecimpung di bidang Internet, System Administrator atau Web Designer yang kemudian pada waktu luangnya menciptakan Blog-Blog mereka sendiri.

Pada Agustus 1999 sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan Blogger.com yang memungkinkan siapapun dengan pengetahuan dasar tentang HTML dapat menciptakan Blog-nya sendiri secara online dan gratis. Walaupun sebelumnya (Juli 1999) layanan membuat Blog online dan gratis ”Pitas” telah ada dan telah membuat Blogger bertambah hingga ratusan, namun jumlah Blog tidak pernah bertambah hingga saat Blogger.com muncul di dunia per-blog-an. Blogger.com sendiri saat ini telah memiliki hingga 100.000 Blogger yang menggunakan layanan mereka dengan pertumbuhan jumlah sekitar 20% per bulan. Blogger.com dan Pitas tentu tidak sendirian, layanan pembuat blog online diberikan pula oleh Grouksoup, Edit this Page dan juga Velocinews.

Blog adalah budaya digital tersendiri dan komunitas elektroniknya bertebaran di internet dan dengan sedemikian banyak Blog di Internet yang selalu mencari website-website yang menarik maka Blog menjadi unik. Seperti yang dituliskan Cameron Barret bahwa Blog saat ini adalah indikator akurat tentang apa yang sedang terjadi di Internet dan di dalam komunitas web. “Blog adalah simbol dari apa yang hebat tentang Internet.” .

Keinteraktifan adalah hal lain yang didapatkan dari Blog. Internet memungkinkan para Blogger memberikan opini dan komentar mereka tentang suatu isu, tapi juga memungkinkan para pembaca Blog menuliskan opininya pula tentang opini yang ia baca. Pro, kontra, link, tambahan informasi, fakta baru, semuanya kemudian terkandung dalam satu situs Blog besar. Jon Katz dalam tulisannya di Slashdot, Here Come The Weblog, May 1999, menggambarkan Blog sebagai rangkaian evolusi menuju “New Media”. Blog berhasil mendemostrasikan banyak hal tentang budaya interaktif yang disukai orang, terutama anak-anak muda.

Keinteraktifan Blog adalah salah satu faktor yang menunjang kepopulerannya. Media konvensional yang bersifat satu arah berubah bentuk menjadi tempat dimana suara semua orang mendapat tempat, walau belum tentu berharga. Blog memiliki kebalikan struktur dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan, Menurut Jon Katz “Blog adalah contoh tepat evolusi komunitas eleltronik dan kemampuan orang yang secara online membuat media yang mereka kostumisasi sendiri. Media yang dikustomisasi sendiri yang dimaksud, adalah media yang lepas dari kecurigaan media sebagai corong korporasi besar”. Blog kemungkinan besar adalah masa depan media yang kita saksikan sekarang.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Di era yang serba canggih ini guru dituntut untuk selalu berkembang dalam hal wawasan serta kemampuannya dalam proses belajar mengajar. Wawasan seorang guru diharapkan mampu menyokong kegiatannya dalam proses belajar mengajar, selain itu wawasan yang luas membuat guru memiliki cara pandang yang maju dalm menilai berbagi hal.

Kemampuan atau kompetensi guru dalam proses blejar mengajar mutlak dibutuhkan dalam kegiatannya sebagai seorang tenaga pengajar profesional. Moralitas seorang guru adalah kunci dalam upaya peningkatan kuailatas diri serta kompetensi yang harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

Sebuah asumsi yang didukung oleh suatu penelitian telah menyatakan adanya korelasi yang signifikan antara tingkah laku dosen dengan persepsi mahasiswa terhadap prestasinya (Kozma, Belle, dan Williams, 1978, dalam Jacob, 2002, h.2).

Jadi, pada dasarnya prestasi subjek didik sangat dipengaruhi oleh kompetensi pengajarnya. Dalam konteks ini perlu dipahami dua definisi penting mengenai sebuah kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu: (1) kompetensi guru adalah himpunan pengetahuan, kemampuan, dan keyakinan yang dimiliki seorang guru dan ditampilkan untuk situasi mengajar (Anderson, 1989, dalam Jacob, 2002, h.2); (2) kompetensi mengajar adalah tingkah laku pengajar yang dapat diamati (Cruickshank, 1985, dalam Jacob, 2002, h.2).

Sebuah kenyataan yang tidak dapat dimungkiri lagi bahwa profil kompetensi guru sangat berpengaruh besar terhadap prestasi siswa. Guru yang tidak menguasai bahan ajar, tidak menguasai landasan-landasan kependidikan, tidak menguasai psikologi belajar siswa, dan kompetensi lainnya sudah tidak dapat diandalkan lagi dalam konteks pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang profesional.

Pada kenyataannya guru disibukkan dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, hal yang menghambat proses peningkatan kompetensi dirinya. Guru masih saja sibuk mengurusi preekonomian keluarganya yang cenderung pas-pasan. Guru selalu dikebiri dengan kebijakan-kebijakan yang terkesan spontan, dramatis, dan perlu penyesuaian diri yang sangat cepat.

Di sisi lain guru menanggung beban yang sangat berat dengan banyak agenda untuk menciptakan kualitas lulusan yang kritis, cerdas, terbuka, produktif dan berakhlak mulia seperti yang diamanatkan oleh berbagai tuntutan, baik dari pemerintah maupun stakeholders pendidikan lainnya. Yang lebih parah lagi, pengembangan diri dan kompetensi dalam konteks pelaksanaan tugas profesinya sangat terbatas. Sedikti sekali upaya yang dilakukan guru dalam rangka peningkatkan kompetensinya. Terbatasnya fasilitas dan minimnya minat guru adalah hambatan utama dalam usaha ini.

Semakin berkembangya bidang Teknologi Informasi Khususnya dunia per internettan melahirkan sebuah media baru yaitu blog, yang semaki lama semakin berkembang dan dimanfaatkan dalam setiap bidang, tak luput adalah bidang pendidikan.

Blog sebagai sebuah media memiliki berbagai fasilitas sebagai sebuah web site pribadi. Keinteraktifan adalah hal terpenting yang didapatkan dari Blog. Internet memungkinkan para Blogger memberikan opini dan komentar mereka tentang suatu isu, tapi juga memungkinkan para pembaca Blog menuliskan opininya pula tentang opini yang ia baca. Pro, kontra, link, tambahan informasi, serata fakta baru.

Seorang guru dapat menuliskan apapun tentang kegiatan di sekolah seperti; menceritakan kegiatan belajar yang menyenangkan bersama murid-murid, menceritakan inovasi dalam metode mengajar yang memang menarik minat dan bisa jadi contoh bagi guru-guru yang lain untuk dipraktekkan di kelas mereka, menuliskan uneg-uneg akan protes kebijakan sekolah selain jadi bahan melepas stres juga bisa sebagai ancang-ancang berargumen dengan kepala sekolah/kepala yayasan.

Blog bisa menjadi cermin evaluasi diri karena tulisan-tulisan kita juga dikomentari oleh berbagai orang dengan berbagai sudut pandang sehingga kita juga belajar memahami berbagai karakter orang dan sudut pandang seseorang menyikapi masalah.

Menguji kualitas tulisan-tulisan. Posting sebuah tulisan di blog. Kalau banyak orang yang menyukainya, maka sukses jadi penulis yang berbakat. Jika tak ada yang suka, berarti harus belajar lebih giat lagi untuk membuat tulisan yang menarik. Intinya, aktivitas blogging bisa menjadi sarana yang sangat jitu untuk mengevaluasi kualitas dan kemampuan.

Hal lain tentang kekuatan blog dalam dunia pendidikan antara lain:

  • · Isinya bisa luas menyangkut banyak hal pengajaran
  • · Bisa dijadikan ajang belajar menulis untuk menuangkan ide
  • · Bukti portofolio seorang guru terkait profesionalitasnya
  • · Relatif lebih hemat biaya
  • · Menembus ruang
  • · Bebas aturan alias suka-suka yg nulis (yg ada hanya etika atau aturan tidak tertulis)
  • · Melepaskan kebiasaan formalitas untuk menghambur uang rakyat
  • · Pengembangan proses pembelajaran yang bervariatif
  • · Bisa mengembangkan jaringan lebih luas antar guru di negara lain.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Ngeblog dapat meningkatan kualitas diri dan kompetensi seorang guru. Dengan kekuatan yang dimiliki blog seorang guru dapat menuliskan apapun tentang kegiatan di sekolah seperti; menceritakan kegiatan belajar yang menyenangkan bersama murid-murid, menceritakan inovasi dalam metode mengajar yang memang menarik minat dan bisa jadi contoh bagi guru-guru yang lain untuk dipraktekkan di kelas mereka, menuliskan uneg-uneg akan protes kebijakan sekolah selain jadi bahan melepas stres juga bisa sebagai ancang-ancang berargumen dengan kepala sekolah/kepala yayasan.

Selain itu dengan Nge-blog memungkinkan seorang guru untuk bertukar pikiran dengan guru laen dimanapun, sharing kiat mengajar , bahan ajar dan sebaginya yang semuanya memperlancar kegiatan belajar mengajar dalam rangka peningkatan kompetensi guru dan pendidikan pada umumnya.

 


2 Komentar

  1. Umar Puja Kesuma mengatakan:

    Salah satu kelemahan guru adalah miskin karya tulis. Padahal sebenarnya masing-masing guru memiliki potensi dan sumber daya untuk membuatnya. Oleh sebab itu, Blog bisa menjadi sarana belajar untuk mengaktualisasikan diri dan pikiran guna mencapai tujuan utama yaitu menghasilkan karya tulis berkualitas.
    Mari tegakkan semboyan:
    “Gajah Mati Meninggalkan Gading”
    “Guru Mati Meninggalkan Tulisan”

    • blogwirabuana mengatakan:

      terimakasih.
      semoga bermanfaat.

      sebenarnya perlu dipahami bahwa Guru bukanlah profesi yang ringan, tetapi membutuhkan keprofesionalisan yang luar biasa, salah satunya adalah mendidik karakter dan tanpa pamrih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: