Setiadi Wira Buana

Petisi Singkat Riwayat Penulis:

Terlahir pada 16 Juli 1990 di sebuah kota kecil bernama Metro dan dibesarkan di kota kecil lainnya bernama Pringsewu di provinsi paling selatan di pulau Sumatra,Lampung. Nama lengkap saya adalah Setiadi Wira Buana, anak pertama dari dua bersaudara. Saudara saya adalah Muhammad Rifqi Dwi Septian. Saya terlahir di dalam keluarga pendidik, ayah saya bernama Anton Hidayanto adalah seorang guru kejuruan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri sedangkan ibu saya merupakan seorang guru agama di Sekolah Menengah Pertama Negeri.  Saya memperoleh pendidikan resmi pertama di TK ABA 2 Pringsewu, kemudian melanjutkan ke SD Muhammadiya 1 Pringsewu, pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Pringsewu, kemudian menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Pringsewu dan saat ini sedang menempuh perkuliahan di Universitas Negeri Jakarta pada jurusan Teknik Mesin program studi s1 Pendidikan Teknik mesin.  Sampai saat ini alhamudulillah, saya diberi kesempatan untuk banyak mendapatkan ilmu dan prestasi seperti menjadi siswa berprestasi di TK,SD, SMP, dan SMA. Prestasi terbaik saya adalah memberikan yang terbaik bagi nusa bangsa, yang menjadi sebuah do’a yang diberikan oleh kedua orang tua saya dalam nama  yang diberikan kepada saya.  Setiadi Wira Buana

Mahasiswa Tolak Ukur Peradaban Suatu Bangsa

Setiadi Wira Buana

-Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa-

(Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta 2011)

-Totalitas Perjuangan-

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Sebuah lirik lagu wajib yang sangat dielu-elukan oleh para mahasiswa, para intelektual muda dibenak, jiwa dan raganya. Perihal sebuah harapan yang tersimpan penuh sarat makna untuk mahasiswa yang merupakan penompang masa depan bangsa, tak terkescuali tolak ukur peradaban suatu bangsa.

Sungguh menarik memang jika kita kembali memperbincangkan persoalan kampus dan dinamikannya yang sungguh dinamis, kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerah.

Mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi sosok atau unsur yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan yang ada. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.

Mahasiswa dan aktivitasnya sudah menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Berbagai forum diskusi yang diselenggarakan, menghasilkan berbagai ragam tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan pemikiran.

Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, persepsi dan pencerahan, tempat lahirnya mahasiswa sebagai seorang yang lain (dalam artian positif). Dengan kata lain, kampus merupakan laboratorium besar tempat melahirkan beragam ide, pemikiran, pengembangan wawasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam kehidupan kemasyarakatan. Menjadi agen bagi perubahan sosial, budaya, paradigma, ekonomi dan politik masyarakat secara luas.

Dengan demikian, kepentingan masyarakat menjadi barometer utama bagi keberhasilan suatu perubahan sosial yang dilakukan oleh agen (mahasiswa tersebut). Mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah, tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada dalam laboratorium kampus.

Bangsa ini sedang berada pada persimpangan sejarah. Sedang kebingungan ke mana akan melangkah. Bangsa ini perlu ada yang memandu. Bangsa ini terkesampingkan maknanya. Kebanyakan generasi muda inteleknya lebih senang berhura-hura, malas berpikir dan berdiskusi, tidak serius belajar serta terlanjur terjerumus dalam manuver modernisasi yang membuat mereka menjadi kaum oportunis. Mereka adalah manusia yang dididik agar menjadi intelektual yang kontributif, mampu mamahami permasalahan di sekitarnya, kemudian menganalisis serta memformulasikan solusi masalah tersebut dalam bentuk nyata. Tapi apa daya. Definisi tak selaras dengan implementasi. Mereka belum mampu membuat harapan bangsa ini menjadi kenyataan yang lebih baik dari sebelumnya. Kebanyakan mereka tidak memaknai peran yang diemban, posisi di mana mereka berada, serta fungsinya di mata masyarakat. Hanya lebih menonjolkan individualisme yang demikian melambung. Mereka adalah anak manusia yang di dadanya menyandang label MAHASISWA. Generasi yang katanya harapan bangsa.

Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa ini. Hal ini tentu saja sangat beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen – momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan.

Beberapa tahun belakangan ini telah banyak tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari masa penjajahan Belanda, Masa Penjajahan Jepang, Masa Pemberontakan PKI, Masa Orde Lama, Hingga Masa orde baru, peran mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut.

Gerakan perlawanan mahasiswa sesungguhnya merupakan gerakan perlawanan yang dinamis. Mahasiswa setiap hari bergulat dengan keilmuan, ironis jika gerakan mahasiswa justru monoton kalau tidak mau dikatakan sebagai sebuah kebekuan. Karenanya tradisi-tradisi yang ada diantaranya tradisi membaca harus diimbangi dengan tradisi menganalisa berbagai aspek persoalan dengan berpikir logis dan mendalam. Tipe masyarakat yamg menjadi miniatur lahirnya peradaban manusia maju dan sejarah adalah tradisi keilmuan. Maju karena masyarakat seperti ini menempatkan ilmu sebagai sinar dalam kehidupan. Mensejarah, karena mereka membuat sebuah kejutan bagi lahirnya paradigma baru bagi terciptanya masyarakat yang ilmiah (knowledge society).

Dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar ilmiah diawali dengan konsep membaca, sesuatu yang berhubungan bukan hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, menelaah, meriset, merenungkan , bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa berupa beragam persoalan yang ada dimasyarakat. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, politik, budaya dan bahkan persoalan etika dan moralitas.

Persoalan menganalisis menjadi penting ketika seseorang ingin menggali kebenaran dari suatu fenomena tertentu. Langkah-langkah selanjutnya yang paling rasional dalam menghadapi tatanan dunia global, bagi kalangan mahasiswa dikampus adalah membangun kesadaran bersama dengan meningkatkan kompetensi dan skill dalam memposisikan diri supaya sejajar dengan bangsa-bangsa Barat dalam bidang ilmu pengetahuan. Karenanya budaya dan tradisi yang selama ini dilakukan dikampus untuk digeserkan kearah perubahan paradigma memahami budaya dan tradisi yang ada.

Tidaklah kaku jika mahasiswa membangun dialog peradaban, minimal ada dua paradigma visi dialog pembangunan masyarakat berperadaban. Pertama, Perubahan eksistensi dan identitas diri, yang mampu melahirkan paradigma kehidupan sosial baru dan merdeka, bebas dari penghambaan terhadap unsur-unsur materi, melahirkan kehidupan segar dan integraliistik. Era kehidupan yang syarat dengan nilai kemanusiaan dan bervisi masa depan.

Ini merupakan tonggak fundamental pertama, merupakan visi kehidupan ummat manusia kearah pembebasan diri dari kungkungan materi yang menjadi ideologinya. Visi kehidupan ini mengarahkan manusia pada ideologi yang sesungguhnya dan menjadi benteng kekuatan para pewaris peradaban. Ini merupakan asas fundamental bagi terwujudnya masyarakat berperadaban.

Proses ideologisasi ke dalam tubuh masyarakat secara radikal dan gradula perlu dilakukan. Kedua, Pola pembangunan struktur pengetahuan masyarakat yang secara bersamaan dilakukan dalam kerangka membangun kesadaran untuk membaca atas realitas yang terjadi.

Terkadang pemahaman mahasiswa atas teks-teks yang dipelajari dikampus bersifat tekstual. Karenanya perlu ada penyeimbangan pemikiran dalam memahami realitas. Kalangan mahasiswa diminta tidak hanya memahami teks saja tetapi mampu melihat perubahan dunia yang cepat dari teks-teks yang dipelajarinya itu. Karenanya pemahaman teks yang menyebar dalam berbagai literatur menjadi penyelaras dalam kondisi jaman yang sedang berubah.

Paradigma mahasiswa di kampus bertumpu pada penyelarasan ideologis dengan ketajaman analisis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Kalangan mahasiswa mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, kritis, sistematis, dan komperhensif, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan pemikiran yang konstruktif. Hal ini harus menjadi kultur yang melekat. Gerakan mahasiswa dalam konteks kekinian dituntut untuk bisa bergaul dalam dimensi yang lebih luas. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa diharapkan mampu memberikan jawaban atas kondisi zaman yang terus berubah. Jika tidak bisa, maka mahasiswa akan ditinggalkan oleh kemajuan zaman ini.

Mahasiswa merupakan sebuah miniatur masyarakat intelektual yang memilki corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan kreatifitas dalam rangka mewujudkan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI Yakni; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, Pengabdian pada masyarakat.

Setiap melakukan perubahan sosial, pasti ada hambatan dan halangan. Untuk mengatasi hal tersebut maka mahasiswa harus menggunakan trik-trik yang jitu diantaranya :

  1. Mulailah dari diri sendiri.
  2. Kuatkan tekad untuk selalu melakukan perubahan yang lebih berkemajuan.
  3. Menunjukkan Identitas Mahasiswa.
  4. Memanajemen waktu dengan sebaik-baiknya.
  5. Merubah Paradigma berfikir dari mental penjajah menjadi penebar rahmat.

Mahasiswa Sebagai Penancap Tombak Peradaban Peradaban bangsa ini semakin mengalami perubahan adalah tak lain karena ada peran pemuda mahasiswa di dalamnya. Catatan sejarah tersebut setidaknya telah menjadi bukti bahwa mahasiswa selalu menempatkan diri dalam setiap perubahan historik dan patriotik di negeri ini.

Mengapa Harus Mahasiswa???

Berdasarkan karakterisitik alamiahnya, pemuda mahasiswa memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan elemen – elemen masyarakat lainnya. Sebagai seorang yang memiliki jiwa muda, mahasiswa merupakan sesosok figur yang bisa dikatakan memiliki karakter yang masih memiliki idealisme yang tinggi dalam berjuang, mereka tidak segan – segan untuk menyuarakan kekesalan dan kritik mereka terhadap siapapun yang mereka anggap menyimpang dari kondisi ideal.

Mahasiswa merupakan sosok insan akademis yang sedang menjalankan aktifitas pendidikan yang terbilang tinggi sehingga mereka beranggapan bahwa ilmu yang mereka dapatkan merupakan sebuah senjata pamungkas untuk mengabdikan diri ke masyarakat. Mahasiswa juga dikenal kreatif dalam membangun ilmu yang didapatkannya serta mengaplikasikannya ke masyarakat karena secara biologis pemuda masih memiliki kondisi yang fresh untuk berpikir dan bertindak secara fisik.

Mahasiswa sebagai pemuda juga memiliki keingintahuan dan sikap kritis yang tinggi terhadap kondisi di sekitarnya, dan dengan modal intelektualitas yang ia punya ia senantiasa mampu untuk memperjuangkan kondisi sosial yang dilihatnya agar menjadi lebih ideal dan dinamis tanpa ada keraguan.

Pada kesimpulannya, mahasiswa memiliki 3 modal dasar yang membuat ia mampu disebut sebagai agent of change (agen perubahan) dan agent of social control (agen pengawas sosial) yaitu kekuatan moralnya dalam berjuang karena pada intinya apa yang ia buat adalah semata – mata berlandaskan pada gerakan moral yang menjadi idealismenya dalam berjuang, yang kedua adalah kekuatan intelektualitasnya, melalui ilmu pengetahuan yang ia raih di bangku pendidikan, ia senantiasa ingin mengaplikasiakan segenap keilmuannya untuk gerakan moral dan pengabdian kepada masyarakat, karena baginya ilmu merupakan suatu amanah dan tanggung jawab yang harus diamalkan, yang ketiga adalah mahasiswa sebagai seorang pemuda memiliki semangat dan jiwa muda yang merupakan karakter alami yang pasti dimiliki oleh setiap pemuda secara biologis, dimana melingkupi kekuatan otak dan fisik yang bisa dikatakan maksimal, lalu kratifitas, responsifitas, serta keaktifannya dalam membuat inovasi yang sesuai dengan bidang keilmuannya.

Mungkin hal – hal inilah yang menjadi faktor utama mengapa pemuda mahasiswa yang selalu menjadi aktor peradaban dan tulang punggung perjuangan bangsa dalam membangun peradabanya, bahkan seorang Soekarno juga mengakui kemampuan yang dimiliki pemuda mahasiswa tersebut melalui statementnya “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia”. Dan memang begitu lah kenyataannya dan fakta yang tidak bisa ditolak oleh siapapun perihal tinta emas yang telah digoreskan oleh pemuda mahasiswa dimanapun dia berada.
Mungkin sejarah gerakan mahasiswa ini layaknyalah kita jadikan sebagai bahan refleksi kita semua khususnya yang sekarang menjadi seorang mahasiswa bahwa inilah sebenarnya peran dan tanggung jawab kita sebagai pemuda mahasiswa yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita yang sudah terlebih dahulu menancapkan tombak perubahannya di negeri ini.

Sudah saatnya pemuda mahasiswa saat ini mulai bangun dari tidur panjangnya, mana semangat pemuda mahasiswa tahun 1908, 1928, 1945, 1966, sampai 1998 yang sempat mengguncang Indonesia tersebut.
mari kita renungkan sama-sama dan kita ciptakan sejarah kita yang nantinya bakal menjadi tinta emas peradaban bangsa kita yang semakin terpuruk ini.

HIDUP MAHASISWA!!!!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!!

SEKAPUR SIRIH DARI KETUA BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

SETIADI WIRA BUANA

-Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa-

(Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta 2011)

Hidup Mahasiswa!

Salam Pemuda Indonesia..

Ungkapan yang takkan bisa Kita sandingkan, rasa terimakasih atas keagungan Allah SWT yang memberikan kehidupan dan kemungkinan yang bisa Kita rasakan.

Selamat datang di garda terdepan perdaban bangsa, selamat datang di kampus yang penuh intrik kehidupan yang akan menyapa setiap dari kalian, Mahasiswa Baru Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta.

Hal yang harus ditempa oleh rekan-rekan mahasiswa merupakan paradigma baru untuk perubahan mindset pada diri yaitu, kenyataan luar biasa bahwasanya saat ini Kalian adalah Mahasiswa.

Mahasiswa merupakan kalangan identik dengan semangat untuk terus menerus menuntut ilmu. Hal ini memang sudah terepresentatifkan oleh nama “mahasiswa” itu sendiri. Kata maha berkonotasi dengan sesuatu yang tidak terbatas. Dan siswa berkonotasi dengan semangat untuk menuntut ilmu. Sebuah nama yang bisa menjadi beban bagi kita para mahasiswa karena sebuah kehormatan tentunya bagi kita para mahasiswa Indonesia, karena di negara lain tidak ada penghormatan khusus untuk seorang mahasiswa.

Pada kenyataannya menjadi seorang mahasiswa tidaklah tanpa tanggung jawab tersendiri, sejatinya Kita harus menjaga nilai-nilai yang tertanam pada mahasiswa yaitu adalah nilai perjuangan, kepeloporan, pengabdian, dan pendidikan. Sehingga dalam semua prosesnya, mahasiswa yang baik adalah ketika nilai nilai ini bisa diraih selama fase menjadi mahasiswa. Menjadikan semua ini mengakar menjadi sebuah idealisme kuat dan melekat di setiap inividu mahasiswa.

Masa depan sebuah Negara sangat ditentukan pada kualitas mahasiswanya. Pepatah bahkan mengatakan mahasiswa kini, pemimpin di masa depan. Mahasiswa adalah kelompok yang bergerak dengan hati nurani dan kapasitas intelektual yang dimiliki, itu mengapa istilah insan akademis begitu melekat pada diri mahasiswa, yang nantinya akan diaplikasikan di Universitas Kehidupan.

Semoga momen berharga ini, saat seluruh mahasiswa baru Fakultas Teknik berkumpul dalam menjalankan rangkaian penyambutan perdana di gerbang pengenalan dunia akademik kampus yaitu “Masa Pengenalan Akademik Fakultas Teknik 2011” menjadi satu pijakan emas dalam sebuah sejarah baru dari pengalaman yang luar biasa. Pengharapan besar untuk mejadi mahasiswa yang lebih solutif, mengakar dan progresif. Bersinarlah Mahasiswa dengan Romantika Nusantara untuk Generasi yang Tangguh. Tanpa cacat pada mental, mengutamakan kecerdasan intelektual, mengaktualisasikan diri dalam setiap gerakan menjadi pemicu Mahasiswa Fakultas Teknik yang inovatif, bertanggungjawab, beradab dan berkarakter.

Kesuksesan merupakan harga mati untuk seorang mahasiswa, keberhasilan yang mengacu pada terget atau tantangan dari seorang mahasiswa merupakan aktualisasi terhadap impian yang harus terealisasikan atau taklukkan dengan bantuan Allah SWT. Ada 3 (tiga Kesuksesan) dasar yang perlu Kita capai dalam masa usia mahasiswa yaitu pertama kesuksesan Akademik, yang merupakan tugas utama dari seorang Mahasiswa. Yang kedua, kesuksesan organisasi, yaitu sarana terefektif Kita untuk membangun peradaban bangsa yang madani dalam setiap aspek kehidupan. Yang Ketiga adalah sukses berdakwah, merupakan sarana improvisasi atau pengamalan Kita terhadap ilmu yang Kita dapatkan. Semoga Kita dapat merengkuh kesuksesan-kesuksean tersebut.

Kehidupan kampus memiliki aktualisasi dan fleksibelitas yang sangat tinggi, menuntun mahasiswa menjadi komponen penyeimbang dan penyearah yang terhadap rasionalisasi dan kualitas kehidupan Kampus bersama Dosen, Karyawan, dan Birokrasi sebagai para civitas akademika Universitas Negeri Jakarta dengan prestasi. Sudah selayaknya Mahasiswa merubah dari paradigma kuno “Kampus yang membesarkan Mahasiswa” menjadi point utama “Mahasiswa yang membesarkan Kampus”.

Dengan gelora semangat perubahan Kami ucapkan, Selamat Datang Para Generasi Tangguh Fakultas Teknik 2011, Kita bersama ciptakan Fakultas Teknik yang Tangguh (Bertanggungjawab, Berusaha dan Berhasil!)!

Terus bergerak, terpercaya dan dapat dibanggakan..

Mari Kita buat Indonesia tersenyum bangga!

http://mpa-ft-unj.spiritoflearner.com/index.php/home/21-sekapur-sirih-dari-kabem-ft-