Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) Terhadap Hasil Belajar Siswa

SETIADI WIRA BUANA

NIM. 5315082336

Program Studi S1 Penddidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta

2010

A. Judul Penelitian

Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) Terhadap Hasil Belajar Siswa

(Studi kasus mata pelajaran sistem motor bensin di program studi mesin otomotif kelas IX SMK Kemala Bhayangkari 1 Jakarta)

B. Latar Belakang

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat menuntut sumber daya yang berkualitas. Peningkatan sumber daya manusia juga merupakan syarat untuk mencapai tujuan pembangunan, salah satu wahana untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan yang berkualitas. Sebagai faktor penentu keberhasilan pembangunan, maka kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan melalui berbagai program pendidikan yang dilaksanakan secara sistematis dan terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan bagian dari salah satu penentu pengembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

SMK merupakan tingkatan pendidikan yang menekankan pada bidang keahlian tertentu yang harus dimiliki oleh siswa. Hal tersebut yang mendasari setelah lulus dari SMK, siswa harus memiliki keahlian dan mengusai tertentu. Keahlian yang harus dimiliki oleh siswa secara individu (mandiri) dikarenakan orientasi keberadaan SMK  adalah untuk menjadi tenaga kerja ahli dapa bidang keahlian tertentu.  Keahlian yang bukan hanya dalam segi kajian (teori), akan tetapi juga dalam kemampuan (kompetensi) praktek yang menuntut siswa untuk bersikap aktif, kreatif, dan inovatif  dalam menanggapi setiap pelajaran yang diajarkan. Setiap siswa harus dapat memanfaatkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari – hari. Untuk itu sangat dibutuhkan kecocokan dalam penerapan pola metode pembelajaran dalam suatu mata pelajaran yang memerhatikan masukan (input), proses belajar sehingga akan sangat menentukan hasil belajar yang sesuai dalam segi teori maupun praktek. Metode pembelajaran dalam setiap pelajaran harus diperhatikan sehingga sikap aktif, kreatif, dan inovatif akan terwujud.

Pada kenyataanya, siswa kesulitan memperoleh yang harusnya mereka dapatkan baik dalam segi kajian maupun pengaplikasian. Pada mata pelajaran sistem motor bensin, siswa mengalami kesulitan dalam hal kemampuan untuk menginovasi dan kreativitas dalam mengembangkan pengetahuan teori yang telah diperoleh untuk mengaplikasikannya (praktek), siswa kesulitan dalam hal memahami hal-hal yag baru baru disampaikan, dan kesulitan dalam penerapan pengembangan-pengembangan teori yang telah disampaikan pada bentuk lain baik dalam teori maupun praktek.

Pada dasarnya, diperlukan pendekatan untuk mengaktifkan siswa, sehingga diharapkan siswa memiliki pemahaman dan keterampilan yang baik dan yang pastinya berimbas terhadap hasil belajar siswa yang baik pula.

Salah satu model pembelajaran yang merupakan model pembelajaran student centered adalah Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. PBL merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru. Siswa diberikan permasalahan pada awal pelaksanaan pembelajaran oleh guru, selanjutnya selama pelaksanaan pembelajaran siswa memecahkannya yang akhirnya mengintegrasikan pengetahuan ke dalam bentuk laporan. PBL dapat memberikan pemahaman pada siswa lebih mendalam dalam segi analisis teori maupun praktek, hal yang harus diperhatikan.

C. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas diperoleh banyak  hal yang dapat dipermasalahkan, diantaranya:

1.      Apakah cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMK?

2.      Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa SMK?

3.      Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar siswa?

4.      Apakah metode pembelajaran yang tepat untuk diterapkan di SMK?

5.      Apakah pengaruh metode pembelajaran PBL terhadap hasil belajar siswa SMK?

D. Pembatasan Masalah

Permasalahan yang telah disebutkan adalah masih luas sehingga tidak mungkin semua permasalahan yang ada dapat terjangkau dan terselesaikan seluruhnya dalam penelitian. Oleh karena itu, perlu adanya pembatasan masalah sehingga objek yang akan diteliti dapat menjadi lebih jelas dan dapat menghindari kesalahpahaman. Dalam hal ini pembatasan masalah dibagi menjadi dua antara lain:

1. Objek Penelitian

Objek Penelitian merupakan aspek-aspek dari subjek penelitian yang menjadi sasaran penelitian sehingga peneliti dapat lebih fokus dalam melaksanakannya yang meliputi:

a.       Metode pembelajaran PBL (Problem Based Learning)

b.      Hasil Belajar Siswa

Untuk mengetahui lebih jelasnya terkait dengan pemahaman siswa dan perkembangannya terhadap apa yang mereka peroleh maka dapat dilakukan test sebelum memulai penerapan belajar PBL tersebut dan sesudah menggunakan pendekatan belajar PBL, sehingga dapat diperoleh apakah ada pengaruhnya baik hasil belajar dalam bentuk analisi (teori) maupun praktek.

2. Subjek Penelitian

Pada siswa SMK Kemala Bhayangkari 1 Jakarta kelas XI terdapat 6 kelas dengan program studi mesin otomotif dan jumlah siswa masing masing kelas rata-rata terdapat 36  siswa, maka untuk mempermudah penelitian digunakan teknik sampling dengan jumlah yang proporsional agar dapat menggambarkan kondisi dari populasi, adapun jumlah kelas penelitian ada dua kelas dengan kelas pertama dijadikan kelas eksperimen atau perlakukan dan kelas kedua dijadikan kelas kontrol.

E. Perumusan Masalah

Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut di atas maka dapat dirumuskan suatu permumusan masalah sebagai berikut:

“Apakah ada pengaruh penggunaan metode pembelajaran PBL (Problem Based Lerning) terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran sistem motor bensin kelas XI SMK Kemala Bhayangkari 1 Jakarta?

F. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini, adalah sebagai berikut:

1.         Meningkatkan kualitas pembelajaran pada SMK Kemala Bhayangkari 1 pada mata pelajaran sistem motor bensin.

2.         Meningkatkan minat dan kompetensi belajar siswa pada mata pelajaran sistem motor bensin.

3.         Mendapatkan metode pembelajaran terbaik untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang maksimal.

4.         Menjadikan metode pembelajaran PBL yang aktif, kreatif dan inovatif sehingga dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran pada mata pelajaran sistem motor bensin di SMK.

5.         Membantu pengajar dalam menerapkan metode pembelajaran yang sesuai.

6.         Meingkatkan kemampuan guru dalam mengolah kegiatan pembelajaran.

G. Manfaat Penelitian

Dari diadakan penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut:

Manfaat Praktis.

1.         Memberikan informasi kepada guru di SMK mengenai melaksanakan model pembelajaran PBL (Problem Based Learning).

2.         Sebagai bahan masukan dan informasi kepada para guru dan siswa dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.

3.         Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan pengalaman untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan.

Manfaat Teoritis.

1.         Sebagai khasanah bacaan tentang “Keefektifan model pembelajaran PBL terhadap peningkatan hasil belajar siswa SMK”.

2.         Sebagai bahan acuan dibidang penelitian yang sejenisnya dan sebagai pengembangan penelitian lebih lanjut.

H. Kajian Teori

Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dengan keadaan bahwa karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecendrungan-kecendrungan reaksi asli, kematangan, atau perubahan-perubahan sementara dari organisme.(Learning is the process by which an activity originates or is changed through reacting to an encountered situation, provided that the characteristics of the change in activity cannot be explained on the basis of native response tendencies, maturation, or temporary state of the organism)[1].

Howard Barrows (2005) menyatakan PBL (Problem Based Learning), merepresentasikan metode belajar yang “Learn-by-doing” dan akar dasarnya adalah metode pemagangan (apprenticeship), dimana pemula (siswa) mempelajari pengetahuan dan keterampilan dari bidang yang dipilihnya dengan mengerjakan sesuatu dibawah panduan dan pengajaran seorang yang ahli (guru), sampai ia nantinya mampu menghasilkan karyanya sendiri. PBL telah mengembangkan metode pembelajaran ini, yang barangkali sama tuanya dengan peradaban manusia, dengan pemahaman baru melalui penelitian tentang pendidikan dan pengalaman dalam tiga puluh tahun terakhir. Selayaknya seorang pakar, seorang pengajar menjadi tutor yang akan memfasilitasi proses pembelajaran, dan memungkinkan mahasiswa mengambil banyak manfaat saat mereka belajar.[2]

Strategi dalam PBL adalah memberikan siswa “problem” dan tugas yang akan mereka hadapi dalam dunia kerja dan dalam proses usaha mereka memecahkan masalah tersebut mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan atas masalah itu. Karena itu, sebaiknya urutan-urutan pembelajaran siswa paralel dengan urutan kejadian yang terjadi di dunia kerja sehingga siswa akan mendapatkan keterampilan kognitif dan pengetahuan yang mereka butuhkan di dunia kerja saat mereka belajar dengan konteks dunia kerja.  Dalam proses ini siswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri karena keterampilan itu yang akan mereka butuhkan nantinya dalam kehidupan profesional mereka. Mereka menerapkan apa yang telah mereka ketahui, menemukan apa yang perlu mereka ketahui, dan belajar bagaimana mendapatkan informasi yang dibutuhkan lewat berbagai sumber termasuk sumber-sumber online, perpustakaan, profesional dan para pakar. Singkatnya, PBL bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan kecakapan yang penting yakni pemecahan masalah, belajar sendiri, kerja sama tim, dan pemerolehan yang luas atas pengetahuan (H.Barrows, 2005).[3]

PBL (Problem Based Learning), berorientasi pada proses belajar siswa (student-centered learning)1. PBL (Problem Based Learning) merupakan model pembelajaran dimana masalah mengendalikan proses pembelajaran. PBL merupakan metode belajar yang sangat populer pada dunia kedokteran sejak 1970-an. PBL berfokus pada penyajian suatu permasalahan (nyata-stimulus) kepada siswa, kemudian siswa diminta mencari pemecahan masalah melalui serangkaian penelitian dan investigasi berdasarkan teori, konsep, prinsip yang dipelajarinya dari berbagai bidang ilmu (multiple perspective). Permasalahan menjadi fokus, stimulus, dan pemandu proses belajar, sementara guru menjadi fasilitator dan pembimbing. PBL memiliki banyak variasi diantara terdapat lima bentuk belajar berbasis masalah:

1. Permasalahan sebagai pemandu: Masalah menjadi acuan konkrit yang harus menjadi perhatian siswa. Bacaan diberikan sejalan dengan masalah. Masalah menjadi kerangka berpikir siswa dalam mengerjakan tugas.

2. Permasalahan sebagai kesatuan dan alat evluasi: Masalah disajikan setelah tugas-tugas dan penjelasan diberikan. Tujuannya memberikan kesempatan bagi siswa untuk menerapkan pengetahuannya untuk memecahkan masalah.

3. Permasalahan sebagai contoh: Masalah dijadikan contoh dan bagian dari bahan belajar. Masalah digunakan untuk menggambar teori, konsep atau prinsip dan dibahas antara siswa dan guru.

4. Permasalahan sebagai fasilitasi proses belajar: Masalah dijadikan alat untuk melatih siswa dan dibahas antara siswa dan guru.

5. Permasalahan sebagai stimulus belajar: Masalah merangsang siswa untuk mengembangkan ketrampilan mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan masalah dan ketrampilan metakognitif.

Definisi pendekatan belajar berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu lingkungan belajar di mana masalah mengendalian proses belajar mengajar. Hal ini berarti sebelum siswa belajar, mereka diberikan umpan berupa masalah. Masalah diajukan agar siswa mengetahui bahwa mereka harus mempelajari beberapa pengetahuan baru sebelum mereka memecahkan masalah tersebut.

Pendekatan ini mencakup keduanya: sebuah kurikulum dan sebuah proses. Kurikulum yang terdiri dari masalah-masalah yang telah dirancang dan dipilih dengan teliti, yang menuntut kemahiran siswa dalam crical knowledge (berpikir kritsi), problem solving proficiency (belajar memecahkan masalah), self-directed learning strategis (stategi belajar mandiri), dan team participation skills (kemampuan bekerjasama kelompok).prosesnya meniru pendekatan sistem yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah atau menemukan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam hidup dan karir.[4]

Ada sejumlah tujuan dari problem based learning ini. Berdasarkan Barrows, Tamblyn (1980) dan Engel (1977). Problem based learning dapat meningkatkan kedisiplinan dan kesuksesan dalam hal:

(1) adaptasi dan partisipasi dalam suatu perubahan,

(2) aplikasi dari pemecahan masalah dalam situasi yang baru atau yang akan datang,

(3) pemikiran yang kreatif dan kritis,

(4) adopsi data holistik untuk masalah-masalah dan situasi-situasi,

(5) apresiasi dari beragam cara pandang,

(6) kolaborasi tim sukses,

(7) identisifikasi dalam mempelajari kelemahan dan kekuatan,

(8) kemajuan mengarahkan diri sendiri,

(9) kemampuan komunikasi yang efektif,

(10) uraian dasar-dasar/argumentasi pengetahuan,

(11) kemampuan dalam kepemimpinan, dan

(12) pemanfaatan sumber-sumber yang bervariasi dan relevan.[5]

Peranan dan proses problem based learning dalam pembelajaran, contohnya sebagai berikut:

Dalam sebuah kelas dibagi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang. Pada tahap awal, kelompok-kelompok tersebut mendefinisikan tentang learning issues (isu pelajaran/ masalah belajar), mereka meyakini bahwa setiap masalah baru disajikan untuk menentukan bagaimana cara membagi tugas kerja mereka memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian implementasi (penerapan) problem based learning yang agresif memerlukan sumber-sumber pustaka yang banyak. Demikian juga dalam kelas yang besar memerlukan jumlah tutor yang memadai untuk bertindak sebagai fasilitator dalam kelompok-kelompok. Fasilitator ini memiliki peranan dan tantangan yang kuat, mereka harus mengetahui cara bekerja dalam tim, melatih kerjasama, membimbing tanpa berkesan seperti berpura-pura menyembunyikan jawaban, dan menyajikan masalah-masalah yang autentik (berhubungan).[6]

Tidak semua mata pelajaran dimungkinkan untuk dilaksanakan dengan metode PBL. Mata pelajaran tingkat lanjut lebih cocok diajarkan dengan metode PBL karena dalam PBL pembelajaran siswa dilakukan dengan cara membangun penalaran dari semua pengetahuan yang dimiliki siswa dan dari semua yang diperoleh sebagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama individu. Mata pelajaran yang sangat relevan dilaksanakan dengan metode PBL adalah kelompok Mata Pelajaran Keahlian Berkarya (MKB). Mata pelajaran selain kelompok MKB perlu ditingkatkan untuk mendukung pelaksanaan mata pelajaran ber-PBL dan mendukung paradigma studend-centered learning. Proses pembelajaran dalam mata pelajaran tersebut ditingkatkan dengan mengadopsi pilar student-centered learning[7].

Dalam PBL, siswa diberikan soal  hitungan  yang sederhana. Siswa dapat mengerjakan soal tersebut cukup dengan membaca materi dari text book. Dengan demikian, siswa merasa percaya diri mengikuti perkuliahan hari tersebut karena merasa bisa mengerjakan tugas yang diberikan. Lalu, ketika pembelajaran dimulai dengan pembahasan tugas, siswa bisa diminta satu per satu untuk mengerjakan tugas di depan atau ditanya satu per satu. Pembahasan tugas tersebut dilanjutkan dengan lecturing. Pada akhir pertemuan, inti materi hari tersebut serta kaitannya dengan materi untuk pertemuan minggu selanjutnya ditekankan kembali.

Pembelajaran selain memberikan teori-teori yang cukup, juga perlu memberikan contoh-contoh pemecahan problem atau masalah nyata dalam praktek dengan memanfaatkan teori-teori yang ada. Dengan demikian, pengembangan proses pembelajaran secara alamiah disimulasi oleh masalah-masalah pada situasi nyata dimana PBL menstimulasi proses belajar dengan menggunakan masalah-masalah tersebut pada situasi nyata dari suatu bidang. Sekolah, siswa, pengajar masing-masing punya peran yang saling menunjang. Para pengajar, terutama punya peran memberikan inspirasi agar potensi siswa dimaksimalkan. Para Pengajar harus mampu mengeluarkan kemampuan setiap siswa dan memungkinkan mereka berkembang. Para pengajar harus meneliti ulang peran mereka kini.

Untuk menghasilkan bibit siswa yang baru, para pengajar dan sekolah juga harus berubah. Para pengajar juga harus “belajar” dan “belajar ulang” agar tetap terus relevan dan menginspirasi siswa kita untuk memaksimalkan potensi mereka.
PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga pembelajar tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis[8].

Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong siswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada bagaimana dia membelajarkan dirinya.

Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh mahasiswa yang diajar dengan PBL yaitu:

1.      Inkuiri dan keterampilan melakukan pemecahan masalah,

2.      Belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors), dan

3.      Keterampilan belajar mandiri (skills for independent learning).[9]

Inkuiri dan keterampilan proses dalam pemecahan masalah telah dipaparkan sebelumnya. Siswa yang melakukan inkuiri dalam pembelajaran akan menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skill) di mana mereka akan melakukan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan reasoning. PBL juga bertujuan untuk membantu siswa-siswa belajar secara mandiri.

Pembelajaran PBL dapat diterapkan bila didukung lingkungan belajar yang konstruktivistik. Lingkungan belajar konstruktivistik mencakup beberapa faktor yaitu: kasus-kasus berhubungan, fleksibelitas kognisi, sumber-sumber informasi, cognitive tools, pemodelan yang dinamis, percakapan dan kolaborasi, dan dukungan sosial dan kontekstual[10]. Kasus-kasus berhubungan, membantu siswa untuk memahami pokok-pokok permasalahan secara implisit. Kasus-kasus berhubungan dapat membantu siswa belajar mengidentifikasi akar masalah atau sumber masalah utama yang berdampak pada munculnya masalah yang lain. Kegiatan belajar seperti itu dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari[11].

Fleksibelitas kognisi merepresentasi materi pokok dalam upaya memahami kompleksitas yang berkaitan dengan domain pengetahuan. Fleksibelitas kognisi dapat ditingkatkan dengan memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan ide-idenya, yang menggambarkan pemahamannya terhadap permasalahan. Fleksibelitas kognisi dapat menumbuhkan kreativitas berpikir divergen di dalam mempresentasikan masalah. Dari masalah yang siswa tetapkan, mereka dapat mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah, mereka dapat mengemukakan ide pemecahan yang logis. Ide-ide tersebut dapat didiskusikan dahulu dalam kelompok kecil sebelum dilaksanakan.
Sumber-sumber informasi, bermanfaat bagi siswa dalam menyelidiki permasalahan. Informasi dikonstruksi dalam model mental dan perumusan hipotesis yang menjadi titik tolak dalam memanipulasi ruang permasalahan.

Dalam konteks belajar sains, pengetahuan sains yang dimiliki siswa terhadap masalah yang dipecahkan dapat digunakan sebagai acuan awal dan dalam penelusuran bahan pustaka sesuai dengan masalah yang mereka pecahkan. Percakapan dan kolaborasi, dilakukan dengan diskusi dalam proses pemecahan masalah. Diskusi secara tidak resmi dapat menumbuhkan suasana kolaborasi. Diskusi yang intensif dimana terjadi proses menjelaskan dan memperhatikan penjelasan peserta diskusi dapat membatu siswa mengembangkan komunikasi ilmiah, argumentasi yang logis, dan sikap ilmiah.

Dukungan sosial dan kontekstual, berhubungan dengan bagaimana masalah yang menjadi fokus pembelajaran dapat membuat mahasiswa termotivasi untuk memecahkannya. Dukungan sosial dalam kelompok, adanya kondisi yang saling memotivasi antarsiswa dapat menumbuhkan kondisi ini. Suasana kompetitif antarkelompok juga dapat mendukung kinerja kelompok. Dukungan sosial dan kontekstual hendaknya dapat diakomodasi oleh para dosen untuk menyukseskan pelaksanaan pembelajaran[12].

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa PBL sebaiknya digunakan dalam pembelajaran karena:

1.      Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika mahasiswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan.

2.      Dalam situasi PBL, siswa mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung.

3.      PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Gejala umum yang terjadi pada siswa pada saat ini adalah “malas berpikir” mereka cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku atau bahan pustaka lain tanpa mengemukakan pendapat atau analisisnya terhadap pendapat tersebut.

Bila keadaan ini berlangsung terus maka siswa akan mengalami kesulitan mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di kelas dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, pelajaran di kelas adalah untuk memperoleh nilai ujian dan nilai ujian tersebut belum tentu relevan dengan tingkat pemahaman mereka. Oleh sebab itu, model PBL mungkin dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong siswa berpikir dan bekerja dibanding menghafal dan bercerita.

Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian siswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Oleh sebab itu, penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa.

Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum, penerapan model ini mulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh siswa. Masalah tersebut dapat berasal dari siswa atau mungkin juga diberikan oleh pengajar. Siswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, siswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya[13].

Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian siswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Oleh sebab itu, penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada siswa.

Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan[14], yaitu:

1.         Mengidentifikasi masalah,

2.         Mengumpulkan data,

3.         Menganalisis data,

4.         Memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya,

5.         Memilih cara untuk memecahkan masalah,

6.         Merencanakan penerapan pemecahan masalah,

7.         Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan, dan

8.         Melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah.

Empat tahap yang pertama mutlak diperlukan untuk berbagai kategori tingkat berpikir, sedangkan empat tahap berikutnya harus dicapai bila pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).

Langkah mengidentifikasi masalah merupakan tahapan yang sangat penting dalam PBL. Pemilihan masalah yang tepat agar dapat memberikan pengalaman belajar yang mencirikan kerja ilmiah seringkali menjadi ”masalah” bagi dosen dan siswa. Artinya, pemilihan masalah yang kurang luas, kurang relevan dengan konteks materi pembelajaran, atau suatu masalah yang sangat menyimpang dengan tingkat berpikir siswa dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran.

Oleh sebab itu, sangat penting adanya pendampingan oleh guru pada tahap ini. Walaupun guru tidak melakukan intervensi terhadap masalah tetapi dapat memfokuskan masalah melalui pertanyaan-pertanyaan agar mahasiswa melakukan refleksi lebih dalam terhadap masalah yang dipilih. Dalam hal ini guru harus berperan sebagai fasilitator agar pembelajaran tetap pada bingkai yang direncanakan. Suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam PBL adalah pertanyaan berbasis why bukan sekedar how.
Setiap tahap dalam pemecahan masalah, keterampilan siswa dalam tahap tersebut hendaknya tidak semata-mata keterampilan how, tetapi kemampuan menjelaskan permasalahan dan bagaimana permasalahan dapat terjadi. Namun yang harus dicapai pada akhir pembelajaran adalah kemampuannya untuk memahami permasalahan dan alasan timbulnya permasalahan tersebut serta kedudukan permasalahan tersebut dalam tatanan sistem yang sangat luas.

Sebelum melaksanakan perkuliahan dengan metode PBL perlu dilakukan persiapan yang lebih intensif. Dalam perkuliahan dengan metode PBL ada tiga komponen yang akan bekerja yaitu (1) insitusi atau sekolah, (2) guru atau asisten laboraturium, dan (3) siswa. Ketiga komponen ini bekerja sesuai peran atau tugas masing-masing untuk mencapai pembelajaran dalam mata pelajaran ber-PBL secara optimal. Institusi dalam PBL adalah sekolah atau satuan pendidikan. Institusi ini akan mendukung pelaksanaan pembelajaran ber-PBL antara lain: (1) mempersiapkan sarana pembelajaran, perpustakaan, dan alat-alat laboratorium, (2) menjamin keterlaksanaan pembelajaran dengan mengganti kuliah yang tak terselenggara dan bila diperlukan membentuk tim guru mata pelajaran, (3) menyediakan asisten pembelajaran (laboran), (4) mempersiapkan sarana jaringan komputer, dan (5) merekam kehadiran proses pembelajaran siswa dalam database sehingga informasinya dapat digunakan untuk evaluasi pelaksanaan mata pelajaran ber-PBL.

Dalam PBL, peran guru dan petugas laboraturium adalah sebagai fasilitator pembelajaran dan membangun komunitas pembelajaran. Peran guru adalah:

  • Mempersiapkan skenario yang akan dibahas pada tiap sesi dan mengatur silabus mata kuliah dalam format Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS). Jumlah sesi disesuaikan dengan cakupan materi, output, dan outcome dari perkuliahan.
  • Secara bertahap mempersiapkan materi perkuliahan dalam bentuk file elektronik dan memberikan beberapa sumber antara lain buku referensi dan link website.
  • Mendorong para mahasiwa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang diperlukan selanjutnya. Dosen umumnya diharapkan untuk menahan diri tidak memberikan informasi, sebaliknya mendorong dilakukannya diskusi dan pembelajaran antar para mahasiswa.
  • Sebagai evaluator. Walaupun peran dosen tidak lagi dominan dalam pelaksanaan perkuliahan ber-PBL, namun tetap dosen bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian tujuan perkuliahan. Untuk itu secara berkelanjutan, dosen perlu mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan dan melakukan perbaikan segera bilamana diperlukan baik dari sisi content maupun proses.

I. Metodelogi Penelitian

a)      Metode Penelitian

Pada penelitian tentang judul ini metode yang digunakan dalam hal ini dengan menggunakan pendekatan eksperimen yang bertujuan untuk memperoleh hasil penelitian yang berupa informasi.

b)      Tempat dan Waktu Penelitian

Adapun tempat dan waktu yang digunakan pada penelitian ini adalah di SMK Kemala Bhayangkari 1 Jakarta pada bulan desember 2010 di tahun ajaran 2010-2011.

c)      Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas dua variable dimana terdapat satu variable bebas dan satu variable terikat.[15]

Ø  Varibel bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah merupakan metode pembelajaran PBL (Problem Based Learning) yang akan digunakan untuk penelitian.

Ø  Variabel Terikat

Variabel terikat yang terdapat pada penelitian ini adalah merupakan hasil belajar siswa.

d)     Populasi dan sample

1.         Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa di enam kelas pada kelas XI program studi teknik mekanik otomotif di SMK Kemala Bhayangkari 1 Jakarta.

2.         Sample

Sample yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan simple random sampling.

e)      Instrument penelitian

Instrument yang digunakan untuk memdapatkan hasil informasi penelitian adalah dengan menggunakan tes, antara lain tes tertulis yang berisi tentang tes pilihan ganda,tes essay atau uraian dan tes praktek.

f)       Kalibrasi Instrument

1)      Validasi

Validasi butir soal diuji dengan menghitung koefisien korelasi product moment person antara skor butir dan skor total. Butir soal dinyatakan valid jika nilai korelasi perhitungan lebih besar dari pada nilai korelasi di tabel dengan taraf signifikansi 5 %.[16]

2)      Realibilitas

Berdasarkan data skor dari butri soal yang telah dinyatakan valid kemudian dihitung koefisien reliabilitas instrumen penelitian dengan menggunakan Alpha Cronbach.[17]

3)      Tingkat kesukaran

Tingkat kesukaran (TK) dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

TK = (BA+BB): N

Dimana:

TK = Tingkat kesukaran

BA = Jumlah benar kelompok atas

BB = Jumlah benar kelompok bawah

N = Jumlah kelompok atas dan kelompok bawah

g)      Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam melakukan penelitian ini adalah mengguanakan cara tes yang diberikan kepada siswa dari sebelum diadakan penelitian dan setelah dilakukan penelitian dan dengan menggunakan cara observasi langsung untuk memantau perkembangan pada siswa itu sendiri.

h)      Teknik Analisa Data

Teknik analisa data dengan cara menggunakan uji homogenitas, normalitas dan hipotesa dengan menggunakan rumus statistik pada uji regresi dan korelasi.

J. Daftar Pustaka

Siregar, Eveline.Dkk.2007. Teori Belajar dan Pembelajaran.Jakarta: FIP UNJ

Brotowidjoyo,D.Mukayat.2002.Penulisan Karangan Ilmiah.Jakarta:AkademikaPresindo.

Suyitno, dkk. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: FT UNJ

Suryabrata,Sumadi.2009.Metodologi Penelitian.Jakarta:Rajawali Pers.

Meilanie, Sri Martini. 2009. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta : FIP UNJ

Sudjana. 1996. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.


[1] Hilgard dan Bower,1996,hal 2, di Bonoma,1987

[2] Howard Barrows.2005

[3] Ibid

[4] Siregar, Eveline. Dkk. Teori Balajar dan Pembelajar. (Jakarta : UNJ, 2007), h100.

[5] Ibid

[6] Suyitno,dkk. Perencanaan Pembelajaran. (Jakarta: UNJ, 2008),h 40

[7] Sudarman, 2007

[8] I Wayan Dasna dan Sutrisno, 2007

[9] Arends 2004

[10] Jonassen dalam Reigeluth (Ed), 1999:218

[11] I Wayan Dasna dan Sutrisno, 2007

[12] I Wayan Dasna dan Sutrisno, 2007

[13] I Wayan Dasna dan Sutrisno, 2007

[14] Pannen.2001

[15] Suryabrata, Sumadi. Metode Penelitian. (Jakarta: Rajawali, 2009), h25

[16] Sudjana. Metode Statistika. (Bandung: Tarsito, 1996).

[17] Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian. (Yogyakarta : Rineka Cipta, 2006), h184

4 gagasan untuk “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran PBL (Problem Based Learning) Terhadap Hasil Belajar Siswa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s