Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi Guru (Peningkatan Kompetensi Diri)

Dalam hal pembenahan pendidikan di Indonesia ada beberapa cara yang bisa menumbuhkan kembali pendidikan di Indonesia. Maka dari itu kita harus berani mengambil sikap dan tentunya kembali pada karakter yang harus dimiliki oleh setiap guru.
Berikut adalah hasil yang diperoleh dalam mengikuti seminar sehari di Malang di Gedung alumni Widyaloka.

Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi Guru (Peningkatan Kompetensi Diri)

Sesi I “Prof. Effendy”
Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

Sekolah bertaraf internasional adalah sekolah yang memenuhi seluruh standar nasional pendidikan serta mempunyai keunggulan yang merujuk pada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan sehingga memiliki daya saing di forum internasional.

SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dalam Peta Persekolahan
1. SMA Nasional >> Kurikulum Indonesia. Siswanya adalah warga negara indonesia.
2. SMA Asing >> Kurikulum Asing. Siswanya adalah warga negara asing yang berada di Indonesia.
3. SMA Franchise >> Kurikulum Asing ada tambahan mata pelajaran Pokok yaitu: Agama, B. Indonesia, dan PKN. Siswanya adalah warga negara asing dan boleh di ikuti oleh warga negara Indonesia.

Program peningkatan mutu SMA menuju sekolah bertaraf internasional (SBI) dilandasi oleh beberapa hal:
1. Dalam perkembangan pendidikan di Indonesia minimal nantinya ada salah satu sekolah dalam setiap kabupaten yang menerapkan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional).
2. Tuntutan angkatan kerja yang mampu berkompetisi dalam tingkat Internasional dan global.
3. Keberadaan peserta didik Indonesia yang kuliah di luar negeri cenderung meningkat jumlahnya.
4. Persaingan global.
5. Pencegahan erosi identitas nasional.

Tujuan Khusus
1. Mengembangkan sekolah dengan menghasilkan kompetensi lulusan yang berdaya saing pada tingkat Internasional dengan karakter khusus
2. Meningkatnya keimanan dan ketaqwaan, berakhlak mulia
3. Meningkatnya kesehatan jasmani dan rohani
4. Meningkatnya mutu lulusan berstandar lebih tinggi daripada standar kompetensi lulusan nasional
5. Menignkatnya penguasaan illmu pengetahuan dan teknologi
6. Menguatnya motivasi belajar mandiri, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
7. Meningkatnuya kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah secara efektif
8. Meningkatnya kecintaan pada persatuan dan kesatuan bangsa
9. Meningkatnya penguasaan bahasa indonesia dengan baik dan benar
10. Menguatnya kejujuran, obyektivitas, dan tanggung jawab
11. Meningkatnya kemampuan komunikasi dalam bahasa inggris atau bahasa asing lainnya secara efektif

Untuk menjadi sekolah yang memiliki taraf Internasional:
1. Tidak harus menggunakan Bahasa Inggris, melainkan misalnya guru kimia yang mampu berbahasa Jerman maka ia bisa mengajar dengan menggunakan pengantar bahasa jeman secara efektif.
2. Penggunaan bahasa inggris dalam kegiatan belajar mengajar untuk setiap guru dengan tingkatan
a. Menggunakan Bahasa Inggris 20%, Bahasa Indonesia 80%, tingkatan rendah
b. Menggunakan Bahasa Inggris 50%, Bahasa Indonesia 50%, tingkatan sedang
c. Menggunakan Bahasa Inggris 100%, tingkatan tinggi

Pengembangan SDM
1. Kursus Bahasa Inggris.
2. Kuliah S2 pada bidang yang paralel. Artinya harus sesuai dengan tingkatan bidang keilmuannya.
3. In House Training dibawah bimbingan fasilitator bidang studi yang kompeten Lulusan Luar Negeri.
4. Pertukaran guru dengan guru sekolah lain/mitra di dalam dan di luar negeri.
5. Magang di luar negeri.

Pengembangan SDM diarahkan untuk mencapai kondisi berikut:
1. Semua guru mempunyai kualifikasi akademik S1, minimal 30% berkualifikasi S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi “A”.
2. Memiliki sertifikasi profesi pendidik sesuai jenjang satuan pendidikan tempat tugasnya (nasional dan internasional).
3. Memiliki kesanggupan untuk mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan.
4. Memiliki kinerja tinggi baik secara individual mamupun dalam kelompok.
5. Mampu menggunakan media/sumber belajar berbasis TIK dalam pembelajaran.
6. Mampu melaksanakan pembelajaran dalam bahasa inggris secara efektif (toefl > 500).
Mengingat guru yang ada saat ini adalah tidak diproduksi untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan bahasa asing maka dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sebaiknya guru:
1. Menggunakan power point atau media pembelajaran yang lain, yang bisa memudahkan siswa untuk memahaminya.
2. Guru diharapkan sebanyak mungkin belajar pronunciation dari peserta didik karena fakta menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang memiliki kemampuan pronunciation lebih baik dari gurunya.
3. Setiap memulai pelajaran guru harus memberikan introduction selama 5 sampai 10 menit. Hal ini penting untuk meningkatkan kemampuan guru dalam komunikasi lisan dan untuk meningkatkan rasa percaya diri guru.
4. Guru seoptimal mungkin menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi dengan peserta didik menskipun dalam keadaan terpaksa, namun penggunakaan bahasa Indonesia tidak diharamkan. Disamping itu harus ada perjanjian dengan peserta didik bahwa dengan berlangsungnya waktu frekuensi penggunaan bahasa Inggris harus semakin ditingkatkan.
5. Pada semester pertama tahun pertama sebaiknya guru tidak dipaksa untuk menyelesaikan semua topik yang harus diajarkan pada semester itu karena mereka dan semua peserta didik perlu adaptasi terhadap program yang baru.
6. Program SBI, minimal ulangan 3 kali dalam satu semester dengan soal yang mudah dan sedang. Maksudnya agar siswa mendapat nilai yang bagus sehingga motivasi yang tumbuh dalam diri siswa semakin berkembang.

Pengembangan Evaluasi
Evaluasi dalam setiap kegiatan harus dikembangkan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Diharapkan semua guru dan pembina mampu menulis dan berbicara yang berbobot.

Sesi II “Prof. Moeljadi”
Peningkatan Mutu Pembelajaran dan Pengembangan Profesi Guru

Pengubahan dari “Teacher Learning Center menjadi Student Learning Center”
pembelajaran terpusat pada guru menjadi pembelajaran terpusat pada siswa. Artinya kita lebih menitikberatkan pada siswa untuk lebih banyak belajar dan guru sebagai pendampingnya.
Tentunya dari pengubahan tersebut tidak lepas dari:
1. Peningkatan Mutu Pendidikan
2. Peningkatan Mutu Pembelajaran
3. Peningkatan Mutu Profesionalitas Guru

Bagaimana meningkatakan Mutu Pendidikan, Pembelajaran, dan Profesionalitas Guru?
1. Kepemimpinan: Kepala Sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dalam bekerja memberikan layanan yang optimal dan disiplin kerja yang kuat.
2. Siswa: Pembelajaran yang terpusat pada siswa (siswa lebih aktif dan kreatif) sehingga seluruh kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali.
3. Guru: Keterlibatan guru harus secara maksimal, dengan meningkatkan kompetensi dan profesi kerja guru dalam kegiatan ilmiah, seperti seminat, lokakarya, pelatihan atau kegiatan lain yang dapat mendukung peningkatan profesi guru.
4. Sistem / Kurikulum: Sistem dan Kurikulum yang dinamis, berkembang, yang dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu dicapai, sehingga target-target yang tertuang dalam tujuan dapat tercapai.
5. Jaringan / Kerjasama: Jaringan kerjasama harus ditingkatkan tidak hanya di lingkungan sekolah, dan orang tua siswa saja, melainkan juga perlu diperluas dengan organisasi/ instansi di luar sekolah, seperti perusahaan-perusahaan, lembaga TKI (Tenaga Kerja Indonesia), di dalam dan di luar negeri.

Apa saja yang terkait mengenai peningkatan Mutu Pembelajaran?
1. Sistem pembelajaran dan kurikulum yang menunjang dan memenuhi dalam menciptakan kompetensi
2. Fasilitas dan buku yang disiapkan dalam pengembangan mutu pembelajaran
3. Guru melaksanakan proses pembelajaran dengan fun, murid tidak terasa terkekang, senang terhadap mata pelajarannya, tumbuh rasa ingin bertanya.
4. Perlu lebih meningkatkan volume pembelajaran konstruktivisme dalam pembelajaran kelas. Artinya pembelajaran yang bisa membangun siswa untuk lebih kreatif lagi.
5. Dalam kegiatan belajar mengajar, pengajar memiliki peran yang dominan, lebih mendorong dalam pembelajaran yang aktif.
6. Guru memberikan pengajaran pada siswa yang terarah.
7. Perlu alokasi dana yang memadai dalam meningkatkan kualitas mutu pendidikan. Bukan hanya untuk kepentingan teknis saja melainkan juga untuk tenaga pembinanya.
8. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta dalam menangani penuntasan wajib belajar.

Sesi III “Prof. Bambang”
Kompetensi dan Sertifikasi Guru Menuju Peningkatan Kinerja Profesi Guru

Yang utama dalam peningkatan kinerja profesi guru adalah
1. Refleksi dan Tindakan “to reflect and to act” Artinya adalah kita harus mampu melihat diri kita terlebih dahulu dan apa yang sudah kita lakukan untuk pembelajaran.
2. Attitude pada setiap individu yang masih kurang di Indonesia.

Rendahnya profesionalitas guru di Indonesia dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar. Menurut Balitbang Depdiknas, guru-guru yang layak mengajar untuk:
1. tingkat SD baik negeri maupun swasta hanya 28,94%
2. Guru SMP negeri 54,12%, swasta 60,99%
3. Guru SMA negeri 65,29%, swasta 64,73%
4. Guru SMK negeri 55,91%, swasta 58,26%

Data dari Direktorat Tenaga Kependidikan Dikdasmen Depdiknas pada tahun 2004 menunjukkan terdapat 991.243 (45,96%) guru SD, SMP, dan SMA yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal.
Gambaran pemenuhan kualifikasi pendidikan minimal guru di Indonesia sebagai berikut:
o Guru TK yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal sebesar 119.470 (78,1%) dengan sebagian besar 32.510 orang berijazah SLTA.
o Di tingkat SD, guru yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal sebesar 391.507 (34%) yang meliputi sebanyak 378.740 orang berijazah SMA dan sebanyak 12.767 orang berijazah D1.
o Di tingkat SMP, jumlah guru yang tidak memenuhi kualifikasi pendidikan minimal sebesar 317.112 (71,2%) yang terdiri atas 130.753 orang berijazah D1 dan 82.788 orang berijazah D2.
o Begitu juga di tingkat SMA, terdapat 87.133 (46,6%) guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan minimal, yakni sebanyak 164 orang berijazah D1, 15.589 orang berijazah D2, dan 71.380 orang berijazah D3.

Bagaimana Penyelenggaraan Sertifikasi Guru?
Penilaian portofolio dilakukan melalui penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan kompetensi guru. Komponen penilaian portofolio mencakup:
(1) kualifikasi akademik
(2) pendidikan dan pelatihan
(3) pengalaman mengajar
(4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
(5) penilaian dari atasan dan pengawas
(6) prestasi akademik
(7) karya pengembangan profesi
(8) keikutsertaan dalam forum ilmiah
(9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial
(10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan

http://goblogmedia.net/2009/08/26/pendidikan-dan-pelatihan-pengembangan-profesi-guru-peningkatan-kompetensi-diri/

 

About these ads

2 thoughts on “Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi Guru (Peningkatan Kompetensi Diri)

  1. Just what genuinely stimulated u to post “Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi
    Guru (Peningkatan Kompetensi Diri) | lentera wira buana”?
    I reallyreally loved it! Thank you ,Dustin

  2. “Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Profesi Guru (Peningkatan Kompetensi Diri) | lentera wira buana” Roman Shades ended up being
    a good posting. If merely there was a whole lot
    more web blogs similar to this specific one on the word wide web.
    Anyways, thanks a lot for your personal precious time,
    Brendan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s